TROBOS.CO | Ada masa ketika kawasan selatan Desa Wotgalih seperti halaman yang dilupakan. Tanahnya berpasir, tandus, dan kering. Tidak banyak yang berminat menggarapnya, apalagi membelinya.
Dua puluh tahun lalu, satu hektare tanah di kawasan itu hanya ditawarkan sekitar Rp5 juta. Harga yang sesungguhnya sangat murah untuk ukuran sebidang tanah, tetapi tetap saja tidak banyak orang yang tertarik. Tanah tersebut dianggap kurang menjanjikan. Sulit ditanami dan tidak memberikan kepastian hasil.
Waktu kemudian mengubah pandangan orang terhadap tanah selatan Wotgalih. Perubahan itu datang bersama tanaman yang bentuknya bulat, berair, manis, dan berwarna merah menyala ketika dibelah. Semangka. Tanaman inilah yang perlahan membuka rahasia tanah berpasir Wotgalih.
Warga mulai berani menggarap lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif. Teknik budidaya terus dipelajari. Salah satu kuncinya adalah penggunaan plastik untuk menutup permukaan tanah. Plastik menjadi semacam penghalang agar air tidak cepat menguap. Kelembapan tanah dapat dipertahankan, sehingga tanaman semangka memperoleh cukup air untuk tumbuh.
Lahan yang dahulu tampak kering mulai berubah warna. Barisan tanaman semangka tumbuh di atas tanah berpasir. Buah-buahnya membesar dan menunggu waktu untuk dipanen.
Perubahan itu bukan hanya terjadi pada tanaman. Nilai tanah ikut bergerak naik.
Seorang petani di Dusun Talsewu mengenang perubahan tersebut. Dahulu pernah ada tanah yang ditawarkan hanya sekitar Rp5 juta per hektare. Tidak ada yang berminat. Namun beberapa tahun kemudian, sekitar 2015, lahan yang sama sudah bisa terjual sekitar Rp35 juta.
Tanah yang dulu dianggap tidak berharga mulai dilihat dengan cara berbeda. Semangka telah memberi bukti bahwa tanah berpasir bukan berarti tanah tanpa masa depan.
Cerita keberhasilan itu kemudian menyebar. Petani dari luar desa mulai berdatangan. Mereka menyewa lahan, mengeluarkan modal, kemudian mencoba peruntungan dengan menanam semangka. Sebagian di antara mereka mengaku mendapatkan keuntungan.
Pada awal perkembangan budidaya semangka, sejumlah petani dari Banyuwangi datang ke Wotgalih. Mereka membawa pengalaman dan teknik bercocok tanam yang kemudian dipelajari oleh warga setempat.
Pengetahuan itu akhirnya tidak lagi menjadi milik segelintir petani. Warga Wotgalih belajar, mencoba, gagal, memperbaiki cara, lalu menanam sendiri.
Dari situlah perubahan semakin terasa. Kawasan selatan Wotgalih yang dahulu sepi dari aktivitas pertanian berubah menjadi hamparan lahan semangka. Tanah berpasir yang pernah dipandang sebelah mata perlahan menjadi sumber penghidupan.
Kini, cerita tentang Wotgalih bukan sekadar cerita tentang semangka. Ini adalah cerita tentang cara manusia membaca potensi sebuah tanah. Tanah yang dahulu dianggap tandus ternyata hanya membutuhkan cara yang tepat untuk diperlakukan. Plastik, air, pengetahuan, keberanian mencoba, dan pengalaman para petani telah mengubah wajah kawasan selatan Wotgalih.
Semangka akhirnya bukan hanya tumbuh dari tanah Wotgalih. Ia ikut menumbuhkan nilai tanah, menggerakkan ekonomi warga, dan mengubah cara orang memandang sebuah kawasan yang dulu nyaris tidak dilirik.
Dari tanah yang tidak laku, Wotgalih menemukan nilai baru. Dan semuanya bermula dari keberanian menanam sesuatu yang dahulu mungkin dianggap sederhana: semangka.
Tim Trobos.co










