TROBOS.CO | Di sela-sela acara Lumajang Bersholawat di Stadion Semeru, Ahad (20/9/2026), TROBOS.CO berkesempatan berbincang santai dengan Dr. KH Abdul Wadud Nafis, Lc., M.E.I. Dialog berjalan lancar dengan tema bebas seputar keumatan, salah satunya soal pentingnya tulis-menulis.
Bagi sosok yang akrab disapa Gus Wadud ini, menulis adalah hal yang sangat penting agar sebuah pikiran bisa dibaca dan dinikmati banyak orang. “Sayang kalau pikiran tidak ditulis,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, ia pun menyatakan kesediaannya untuk menulis rutin di TROBOS.CO.
Lalu, siapa sebenarnya sosok Gus Wadud dan bagaimana kiprahnya di tengah masyarakat? Berikut riwayat pendidikan dan perjalanan hidupnya.
Dr. KH Abdul Wadud Nafis, Lc., M.E.I. adalah seorang ulama, akademisi, penulis, sekaligus penggerak pengembangan ekonomi syariah yang memiliki perjalanan panjang di dunia pendidikan, dakwah, penelitian, kepesantrenan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Ia lahir di Sampang, Madura, pada 6 Juli 1969. Perjalanan hidupnya memperlihatkan perpaduan antara tradisi keilmuan pesantren, pendidikan akademik, dakwah, dan kepedulian terhadap persoalan sosial-ekonomi masyarakat.
Jejak Pendidikan dari Madura hingga Doktoral
Perjalanan pendidikan Gus Wadud dimulai dari Al-Ihsan, Sampang, Madura, yang diselesaikannya pada 1983. Ia kemudian melanjutkan pendidikan SLTP/MTs di Miftahul Ulum, Sidogiri, Pasuruan, hingga rampung pada 1987, lalu menempuh pendidikan SLTA/MA di Nasruddin, Dampit, Malang, dan lulus pada 1990.
Kecintaannya pada ilmu membawanya melanjutkan pendidikan tinggi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, hingga menyelesaikan jenjang S1 pada 1996. Semangat akademiknya terus berkembang; pada 2005 ia menuntaskan S2 di IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan sembilan tahun berselang, tepatnya 2014, berhasil menyelesaikan program doktoral di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Meniti Karier sebagai Akademisi
Karier profesional Gus Wadud telah dimulai sejak dekade 1990-an. Pada 1994-1998, ia tercatat sebagai dosen di Universitas Borobudur Jakarta, sementara pada periode 1995-1998 juga mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Matla’ul Anwar, Pandeglang, Banten. Selanjutnya, pada 1997-2006, ia menjadi dosen di Universitas Indonesia, Jakarta.
Pengalaman akademik itu menunjukkan bahwa sejak usia relatif muda ia telah aktif di dunia perguruan tinggi. Aktivitas mengajar baginya bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian penting dari pengabdian untuk mencerdaskan generasi dan mengembangkan pemikiran Islam di tengah perubahan zaman. Dalam perjalanan berikutnya, ia mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Universitas Islam Syarifuddin Lumajang.
Sempat Berkarier sebagai Wartawan
Selain dunia akademik, Gus Wadud juga punya pengalaman di bidang jurnalistik. Pada 1994-1997, ia menjadi wartawan Majalah “Mimbar MUI” Jakarta dan Tabloid “Jum’at Dewan Masjid” Jakarta.
Pengalaman jurnalistik tersebut turut membentuk kemampuannya dalam membaca persoalan masyarakat, menyampaikan gagasan secara komunikatif, serta menghubungkan pemikiran keislaman dengan realitas sosial yang terus berkembang.
Mengabdi lewat Pesantren dan Organisasi
Pengabdian Gus Wadud tidak berhenti di ruang kelas. Ia juga aktif dalam dunia pesantren dan organisasi kemasyarakatan, dengan sejumlah amanah yang dijalankannya, antara lain sebagai Ketua PD MES Lumajang, Pengasuh PP Ummul Quro Jember, Pengasuh PP Manarul Qur’an Sukodono Lumajang, Komisaris BMT Manarul Qur’an Sukodono Lumajang, Ketua Yayasan Kyai Syarifuddin Lumajang, serta A’wan PWNU Jawa Timur.
Berbagai amanah tersebut memperlihatkan bahwa aktivitasnya bergerak di tiga ruang besar: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Produktif Menulis Sejak 1990-an
Kecintaan Gus Wadud terhadap ilmu tak hanya diwujudkan lewat aktivitas mengajar, tetapi juga melalui karya tulis. Sejak 1994, ia telah menghasilkan karya terjemahan berjudul Sebab-sebab Perbedaan-perbedaan Madzhab Fiqh. Setahun berikutnya, ia menerjemahkan Hidup dan Matiku Untuk Islam serta Dialog dengan Muslim Eropa dan Dialog dengan Orientalis Barat, lalu Keutamaan Kota Makkah pada 1996.
Memasuki tahun 2000, ia aktif menulis di jurnal, salah satunya artikel berjudul Presiden Wanita dalam Sorotan. Aktivitas publikasi akademiknya kian berkembang pada 2008-2010, mencakup tema hermeneutik, politik Islam klasik, sumber hukum Islam, pendidikan Islam, asuransi syariah, metode dakwah, khutbah Jumat, pendidikan, jilbab, nikah mut’ah, hingga multi-level marketing.
Pemikiran di Bidang Ekonomi Syariah
Ekonomi syariah menjadi salah satu perhatian penting dalam perjalanan intelektual Gus Wadud. Pada 2009, ia menerbitkan sejumlah buku, di antaranya Ekonomi Makro Islam, Manajemen Koperasi Pondok Pesantren, Bank Syari’ah: Teori dan Praktek, Metode Dakwah: Teori dan Praktek, Paradigma Islam, dan Entrepreneurship: Cara Mudah Menjadi Kaya.
Setahun berselang lahir karya Paradigma Ekonomi Islam, Qolbun Salim: Ceramah Agama Kontemporer, dan Manajemen Pengelolaan Wakaf Tunai. Ia kemudian menerbitkan Manajemen Asuransi Syariah pada 2012, disusul Inovasi Produk Perbankan Syariah pada 2013, dan Manajemen Pasar Modal Syariah pada 2015. Konsistensi tersebut memperlihatkan bahwa perhatiannya terhadap ekonomi syariah bukan sekadar tema akademik, melainkan bagian dari perjalanan intelektual yang dibangun selama bertahun-tahun.
Produktivitas Karya pada 2024-2026
Produktivitas kepenulisan Gus Wadud kian berkembang dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024, ia kembali menerbitkan Manajemen Asuransi Syariah. Setahun berikutnya, sejumlah karya terbit beruntun, antara lain Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah dan Kepesantrenan, Sejarah Peradaban Islam, Konsep Dasar Ekonomi Islam, Konsep Dasar Ekonomi Neo Liberal, Manajemen Lembaga Amil Zakat, hingga Ushul Fiqih.
Memasuki 2026, produktivitasnya semakin luas dengan lahirnya berbagai karya seperti Al-Qawa’id Al-Usuliyah: Teori, Fondasi, dan Aplikasi, Strategi Membentuk Keluarga Sakinah Qurani, Ekonomi Kepesantrenan, Fiqih Muamalah: Teori dan Aplikasinya dalam Transaksi Kontemporer, hingga Manajemen Strategis: Teori dan Aplikasi di Era Kontemporer.
Peneliti yang Menjembatani Islam dan Persoalan Kontemporer
Karya ilmiah Gus Wadud juga menunjukkan pergeseran tema penelitian, dari persoalan keislaman klasik menuju isu-isu ekonomi dan sosial kontemporer. Pada 2011, ia menulis tentang Spiritual Entrepreneur. Rentang 2014-2016, kajiannya menyentuh prospek ahli ekonomi syariah menghadapi ASEAN Economic Community, manajemen pemasaran bank syariah, hingga mekanisme pelaksanaan saham syariah.
Memasuki 2019-2024, ruang kajiannya kian meluas, mencakup multi-level marketing dalam perspektif fikih, Islam dan peradaban masa depan, akhlak dai, terorisme, label halal, religiusitas, digital marketing, ekonomi pesantren, hingga peran pemerintah dalam pengembangan ekonomi syariah. Karakter intelektualnya konsisten berusaha mempertemukan khazanah keislaman dengan persoalan ekonomi, pendidikan, sosial, teknologi, dan kehidupan masyarakat kontemporer.
Memperluas Wawasan lewat Perjalanan Internasional
Pengalaman akademik dan intelektual Gus Wadud turut diperkaya oleh berbagai perjalanan internasional. Pada 2011, ia mengunjungi Mesir dan Uni Emirat Arab. Malaysia dan Thailand disambanginya pada 2012 dan 2013, sementara Singapura dikunjungi pada 2013 dan 2023, dan Arab Saudi pada 2014, 2018, serta 2023. Pada 2022, ia turut mengunjungi Qatar.
Selain perjalanan tersebut, ia juga aktif mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan kegiatan akademik, termasuk Short Course di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 2011.
Ilmu, Dakwah, dan Pengabdian yang Tak Berhenti
Jika perjalanan Gus Wadud dilihat secara utuh sejak 1990-an hingga 2026, tampak sebuah benang merah yang kuat: ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan, melainkan harus diwujudkan menjadi amal, dakwah, pendidikan, karya, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menjalani perjalanan dari pesantren menuju perguruan tinggi, dari ruang kelas menuju masyarakat, dari aktivitas jurnalistik menuju karya akademik, serta dari kajian keislaman menuju pengembangan ekonomi syariah dan pemberdayaan umat. Lebih dari tiga dekade perjalanan intelektual itu menunjukkan konsistensi dalam membangun tradisi keilmuan — karya-karyanya yang terbit sejak 1994 hingga 2026 menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pemikiran Islam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perubahan zaman.
Bagi Gus Wadud, ilmu adalah amanah, dakwah adalah pengabdian, pendidikan adalah jalan mencerdaskan umat, dan karya adalah ikhtiar agar manfaat ilmu dapat terus mengalir melampaui batas usia dan generasi.
Tim Trobos.co









