12 Alasan Anak Mulai Enggan Bercerita kepada Orang Tuanya

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada saatnya orang tua bertanya dengan sedih, mengapa anaknya sekarang jarang bercerita. Padahal anak tidak selalu tiba-tiba menjadi tertutup. Sering kali ada proses panjang yang membuatnya perlahan menarik diri, bukan karena ia tidak lagi membutuhkan orang tuanya, tetapi karena ia mulai merasa bahwa bercerita tidak lagi menghadirkan rasa aman. Setidaknya ada dua belas hal yang bisa menjadi penyebabnya.

Ketika Telinga Orang Tua Terlalu Sibuk

Penyebab pertama adalah ghiyabul inshat, tidak adanya kesediaan mendengarkan. Anak berbicara, tetapi orang tua hanya mendengar suara, bukan isi hatinya. Belum selesai bercerita sudah dipotong, dinasihati, dikoreksi, bahkan disalahkan. Padahal terkadang anak tidak sedang meminta solusi, ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Ceritakan sampai selesai, Ayah/Ibu mendengarkan.” Ketika telinga orang tua terlalu sibuk untuk mendengar, anak akan mencari telinga lain.

banner 300250

Penyebab kedua adalah at-taqlil minal masyair, meremehkan perasaan anak. Kalimat seperti “cuma begitu saja kok sedih” atau “jangan lebay” mungkin terasa wajar bagi orang dewasa, tetapi bagi dunia seorang anak, itu bisa sangat besar. Meremehkan masalah anak sebenarnya sedang mengajarkan satu pesan berbahaya, bahwa perasaannya tidak penting bagi orang tuanya. Lama-lama ia tidak lagi membawa perasaannya pulang.

Ketiga, ada fuqdanul aman, hilangnya rasa aman. Anak membutuhkan rumah yang bukan hanya aman secara fisik, tetapi juga aman secara emosional. Ia harus merasa bahwa kesalahan tidak otomatis membuatnya kehilangan kasih sayang, bahwa kegagalan tidak menjadikannya manusia tidak berharga, dan bahwa sebuah pengakuan tidak selalu berakhir dengan ledakan kemarahan. Ketika rasa aman hilang, kejujuran biasanya ikut pergi.

Gagal Membaca Perasaan di Balik Perilaku

Penyebab keempat adalah adamu fahmil masyair, tidak memahami perasaan anak. Orang tua terkadang memahami perilaku, tetapi gagal membaca perasaan di baliknya. Anak marah mungkin sebenarnya sedang kecewa, anak membantah mungkin sedang merasa tidak dipahami, dan anak mengurung diri mungkin sedang menghadapi sesuatu yang tidak sanggup ia jelaskan. Alih-alih hanya bertanya “kenapa kamu melakukan itu”, sesekali perlu ditanyakan, “sebenarnya apa yang sedang kamu rasakan?”

Kelima, al-muqaranah bil akhirin, membandingkan dengan orang lain. Kalimat seperti “lihat kakakmu” atau “temanmu bisa, kenapa kamu tidak” mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi terlalu sering justru melahirkan perasaan bahwa dirinya hanya berharga kalau menjadi seperti orang lain. Anak tidak membutuhkan orang tua yang terus menunjukkan siapa yang lebih hebat darinya, ia membutuhkan orang tua yang membantunya menemukan versi terbaik dirinya sendiri.

Keenam adalah ghiyabud da’m, tidak adanya dukungan. Tidak semua langkah anak akan berhasil, tidak semua pilihannya sempurna, tetapi ada perbedaan besar antara mengoreksi dan menjatuhkan. Anak yang selalu merasa sendirian ketika gagal akhirnya belajar menghadapi kehidupannya sendirian pula, hingga suatu hari orang tua mungkin baru sadar bahwa anaknya menjadi kuat, tetapi tidak lagi merasa membutuhkan mereka.

Tekanan, Bentakan, dan Waktu yang Hilang

Ketujuh, katsratudh dhughuth, terlalu banyak tekanan. Nilai harus bagus, harus juara, harus menurut, harus membanggakan keluarga. Anak akhirnya merasa hidupnya seperti proyek ambisi orang dewasa. Kita ingin anak tumbuh tinggi, tetapi jangan sampai setiap hari kita menarik batangnya agar cepat tinggi, sebab pertumbuhan membutuhkan bimbingan, bukan tekanan tanpa henti.

Kedelapan adalah at-tawbikh wash shurakh, terlalu sering mencela dan membentak. Bentakan mungkin menghentikan perilaku dalam beberapa detik, tetapi belum tentu mendidik kesadaran. Anak yang sering dimarahi mungkin menjadi diam, tetapi diam belum tentu berarti mengerti, bisa jadi ia hanya sedang belajar menyembunyikan kesalahan agar tidak dimarahi lagi. Ketakutan memang dapat menghasilkan kepatuhan sesaat, tetapi kepercayaanlah yang melahirkan keterbukaan.

Kesembilan, ghiyabul waqtil musytarak, tidak adanya waktu bersama. Orang tua bekerja untuk anak, tetapi ironisnya kadang tidak mempunyai waktu untuk anak. Kebutuhannya dipenuhi, sekolahnya dibayar, pakaiannya dibelikan, gadget tersedia, tetapi kapan terakhir kali duduk bersama tanpa sibuk dengan layar masing-masing? Kehadiran tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh fasilitas. Anak mungkin lupa mainan yang pernah dibelikan, tetapi bisa mengingat sepanjang hidup saat ayah atau ibunya benar-benar menyediakan waktu untuknya.

Kepercayaan, Privasi, dan Pencarian Penerimaan

Kesepuluh adalah dha’futs tsiqah, lemahnya kepercayaan. Ketika setiap perkataan dicurigai, setiap pilihan dianggap salah, dan setiap keputusan dikontrol, anak yang merasa tidak pernah dipercaya bisa berhenti menjelaskan dirinya. Kepercayaan bukan berarti membiarkan semuanya, orang tua tetap membimbing dan mengawasi, namun pengawasan yang sehat mengatakan “kami menjagamu”, sedangkan kontrol berlebihan dapat terdengar seperti “kami tidak mempercayaimu”.

Kesebelas, intihakul khushushiyyah, melanggar privasi. Cerita pribadi anak disebarkan kepada keluarga, rahasianya dijadikan bahan candaan, atau barang pribadinya diperiksa tanpa komunikasi. Sekali kepercayaan terhadap sebuah rahasia rusak, anak akan berpikir berkali-kali sebelum bercerita kembali. Kedekatan bukan berarti anak tidak boleh mempunyai ruang pribadi, menghormati privasinya justru bagian dari membangun kepercayaan.

Terakhir, yang mungkin menjadi puncaknya, adalah al-bahtsu ‘anil qabuli wat taqdir, anak mencari penerimaan dan penghargaan. Setiap manusia ingin diterima, anak pun demikian. Ketika rumah terlalu banyak menyediakan kritik tetapi terlalu sedikit penghargaan, anak akan mencari tempat lain yang membuat dirinya merasa berarti. Di zaman digital, tempat itu tersedia 24 jam, mulai dari teman, komunitas, media sosial, hingga orang asing. Di sinilah bahayanya, jika anak tidak menemukan penerimaan di rumah, dunia luar dengan senang hati akan menawarkan penerimaan kepadanya, meskipun belum tentu membawa nilai yang diharapkan orang tua.

Dua Belas Pintu yang Perlu Diperiksa

Maka, ketika anak mulai diam, jangan buru-buru berkata bahwa anak zaman sekarang memang susah diajak bicara. Ada baiknya orang tua memeriksa kembali dua belas pintu tadi. Apakah kita sudah mendengarkan? Apakah kita menghargai perasaannya? Apakah ia merasa aman bersama kita? Apakah kita memahami emosinya, dan berhenti membandingkannya dengan orang lain? Apakah ia memperoleh dukungan yang cukup, tanpa tekanan yang berlebihan? Apakah rumah kita masih terlalu penuh bentakan? Apakah kita punya waktu bersamanya, mempercayainya, dan menghormati privasinya? Dan yang paling dalam, apakah ia merasa diterima dan dihargai apa adanya?

Sebab anak yang berhenti bercerita belum tentu berhenti memiliki cerita. Ia hanya mungkin telah mengganti tempat bercerita. Dan tragedi terbesar dalam hubungan orang tua dan anak bukan ketika anak tidak mempunyai sesuatu untuk dikatakan, melainkan ketika anak mempunyai begitu banyak hal untuk diceritakan, tetapi orang tuanya bukan lagi orang yang ia pilih untuk mendengarkannya.

Jangan sekadar menjadi orang tua yang ditaati ketika anak masih kecil. Jadilah rumah yang tetap dicari ketika ia telah dewasa.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *