TROBOS.CO | Tidak semua orang memulai perjalanannya dari tempat yang nyaman. Muhammad Khoirul Anam, S.H. memulainya dari sebuah desa kecil di perbatasan Jember dan Bondowoso tanpa nama besar, tanpa warisan kekuasaan, hanya berbekal doa dan keyakinan bahwa hidup harus memberi manfaat bagi orang lain.
Kini ia dikenal sebagai pendiri Ar Rahman, sebuah lembaga di Lumajang yang tumbuh dari mimpi sederhana seorang anak pedalaman yang menolak menyerah.
Pendidikan Khoirul Anam dimulai di surau kampung dan MI Miftahul Ulum Kebbun Sucolor, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso meski secara geografis tanah kelahirannya masuk wilayah Kabupaten Jember.
Di madrasah itulah ia belajar membaca, menulis, dan mengenal dasar-dasar agama. Tidak ada yang luar biasa saat itu. Ia hanyalah salah satu dari sekian anak kampung yang berangkat sekolah dengan mimpi-mimpi sederhana.
Namun dari kesederhanaan itulah, perjalanan panjangnya dimulai.
Perjalanan berikutnya membawa Khoirul Anam ke Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, melalui Yayasan Zainur Rohmah yang diasuh oleh keluarga besar K.H. Muhammad Damanhuri Romli dan Nyai Hj. Diana Susilowati.
Meski tidak lama, Genggong meninggalkan jejak yang dalam. Di sanalah ia mendengar kisah-kisah para ulama yang memuliakan guru, menjaga adab kepada para masyayikh, dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
“Ilmu memang penting, tetapi adab sering kali menjadi pintu datangnya keberkahan,” begitu yang ia pahami dari masa itu.
Satu kenangan tak terduga juga lahir di Genggong ia berkesempatan bertemu langsung dengan Rhoma Irama, sang raja dangdut yang sejak kecil ia idolakan. Bagi seorang anak kampung yang dulu rela begadang menonton film Rhoma di TPI, pertemuan itu adalah kebahagiaan yang sulit dilupakan.
Perjalanan berikutnya membawa Khoirul Anam ke Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, melalui Yayasan Zainur Rohmah yang diasuh oleh keluarga besar K.H. Muhammad Damanhuri Romli dan Nyai Hj. Diana Susilowati.
Meski tidak lama, Genggong meninggalkan jejak yang dalam. Di sanalah ia mendengar kisah-kisah para ulama yang memuliakan guru, menjaga adab kepada para masyayikh, dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
“Ilmu memang penting, tetapi adab sering kali menjadi pintu datangnya keberkahan,” begitu yang ia pahami dari masa itu.
Satu kenangan tak terduga juga lahir di Genggong ia berkesempatan bertemu langsung dengan Rhoma Irama, sang raja dangdut yang sejak kecil ia idolakan. Bagi seorang anak kampung yang dulu rela begadang menonton film Rhoma di TPI, pertemuan itu adalah kebahagiaan yang sulit dilupakan.
Pesantren berikutnya adalah Al-Ishlah Bondowoso. Di tembok gedungnya, tertulis sebuah hadits yang kemudian meresap jauh ke dalam cara pandangnya tentang hidup:
خير الناس أنفعهم للناس “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Juga tertulis kalimat tegas: “Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti.”
Kalimat-kalimat itu sederhana. Namun semakin bertambah usia, Khoirul Anam semakin memahami kedalamannya.
Tidak banyak orang yang mau jujur menceritakan masa-masa sulit. Khoirul Anam tidak malu mengakuinya ia pernah menjadi tukang becak di Jember.
“Dari jalanan saya belajar banyak hal yang tidak saya temukan di ruang kelas,” katanya. Kerja keras, kesabaran, dan menghargai setiap rupiah yang diperoleh dengan keringat sendiri semua itu adalah pelajaran jalanan yang tak ternilai.
Di masa itulah Allah mempertemukannya dengan K.H. Ahmad Muzakki Syah, Pengasuh Pondok Pesantren Al Qodiri Jember, sekaligus Imam Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jailani RA dengan ribuan jamaah di seluruh Indonesia bahkan mancanegara.
Dari beliau, ia mendapat kalimat yang hingga kini ia pegang erat:
الشرف لا بالنسب ولكن بالتعب “Kemuliaan bukan karena keturunan, melainkan karena jerih payah dan perjuangan.”
Bagi seorang yang bukan anak kiai, bukan anak ustadz, bukan dari keluarga bernama besar kalimat itu terasa seperti cahaya di ujung lorong.
Keputusan berhijrah ke Lumajang bukan perjalanan mulus. Ia datang tanpa nama besar, tanpa kekuasaan. Pernah suatu ketika ia harus berjalan kaki dari pertigaan Yosowilangun ke Kunir dalam kondisi hujan.
Tapi tekadnya tidak goyah. Ia datang membawa harapan, doa, dan satu keyakinan sederhana: hidup harus memberi manfaat.
Dari langkah-langkah kecil itulah kemudian lahir Ar Rahman.
Bagi sebagian orang, Ar Rahman mungkin hanya sebuah nama lembaga. Bagi Khoirul Anam, Ar Rahman adalah perjalanan panjang yang di dalamnya tersimpan doa para guru, dukungan sahabat-sahabat baik, kegagalan yang mengajarkan kesabaran, dan pertolongan Allah yang datang melalui cara-cara tak terduga.
Mimpinya tidak muluk-muluk. Ar Rahman ia harapkan tumbuh sebagai:
- Tempat belajar bagi anak-anak
- Tempat berkhidmah bagi mereka yang ingin berbuat baik
- Rumah bagi para lansia yang membutuhkan perhatian
- Jalan amal bagi siapa pun yang ingin menanam kebaikan
“Saya tidak tahu apakah kelak nama saya akan diingat atau dilupakan. Namun saya berharap manfaat yang lahir dari Ar Rahman tetap hidup,” ungkapnya.
Di penghujung ceritanya, Khoirul Anam tidak berbicara tentang kemewahan atau ketenaran. Ia hanya ingin menjadi lebih bermanfaat hari ini daripada kemarin.
Pelan-pelan. Setapak demi setapak.
Sebab ia percaya seperti yang pernah tertulis di tembok pesantren yang ia singgahi puluhan tahun lalu:
خير الناس أنفعهم للناس “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Dan selama Allah masih memberi kesempatan, mimpi anak pedalaman itu akan terus berjalan.
Muhammad Khoirul Anam, S.H.









