Kajian Ramadhan Muhammadiyah Jatim: Ekoteologi dan Ikhtiar Membangun Tanpa Merusak

TROBOS.CO | JEMBER – Sabtu-Ahad, 21-22 Februari 2026, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur mengadakan Kajian Ramadhan 1447 Hijriah, bertempat di Kampus Universitas Muhammadiyah Jember, Jl. Karimata.

Selama dua hari, dari dhuhur ke dhuhur, 1.600-an peserta kajian dari berbagai daerah di Jawa Timur mendapat siraman pengetahuan, pengalaman, dan adu pendapat dengan berbagai narasumber. Mulai dari Mendikdasmen Kyai Abdul Mukti hingga kader IPM yang kini menjabat Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni.

Agenda tahunan PWM Jatim ini mengusung tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan”. Menurut Prof. Biyanto, Sekretaris PWM Jatim, tema ekoteologi dipilih karena Indonesia termasuk negara rawan bencana. Berbagai bencana yang terjadi menunjukkan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan alam.

“Beragama bukan hanya soal ritual dan hubungan antar manusia, tetapi juga bagaimana kita bersahabat dengan alam. Memelihara lingkungan adalah bagian penting dari tugas kekhalifahan,” tegasnya.

Buya Haedar: Membangun Bumi Tanpa Merusak

Melalui sambutan virtual, Ketua PP Muhammadiyah, Buya Haedar Nashir, dalam sambutan iftitahnya mengatakan bahwa inti konsep ekoteologi dan tugas kekhalifahan adalah bagaimana kita semua bisa membangun dan memajukan bumi tanpa merusak.

Ia kemudian mengutip ayat ke-29 Surat Al-Baqarah tentang tujuan utama diturunkannya manusia untuk memimpin di bumi sesuai petunjuk-Nya.

Sesi Kajian: Dari Kebijakan Hingga Pendidikan

Sesi kajian pertama dibuka dengan sambutan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, soal tanggung jawab dan kebijakan pelestarian lingkungan serta mitigasi bencana. Ia menegaskan pentingnya sinergi kebijakan negara dengan gerakan masyarakat sipil dalam merespons krisis ekologis.

Dalam rangka mentradisikan literasi di kalangan Muhammadiyah, acara ini juga dirangkaikan dengan peluncuran 27 judul buku terbitan PWM Jatim.

Selanjutnya, Hj. Rahmawati Husein, MCP, Ph.D. , dosen UM Yogyakarta sekaligus Pengarah BNPB, memaparkan tema “Hidup di Negeri Rawan Bencana: Bagaimana Menyikapinya?”

Setelah buka bersama dan shalat tarawih, giliran Menteri Dikdasmen yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mengocok perut peserta kajian dengan joke-joke segarnya soal “Tugas Kekhalifahan dalam Perspektif Pendidikan”. Lebih dari satu jam tak terasa, ia mengupas peran pendidikan dalam membentuk kesadaran ekologis dan tanggung jawab moral generasi bangsa.

Hari Kedua: Refleksi dan Pengalaman Muhammadiyah

Sesi hari kedua, Ahad, diisi oleh Prof. Syafiq A. Mughni, MA., Ph.D. , Ketua PP Muhammadiyah, dengan tema “Ekoteologi dan Pengalaman Muhammadiyah dalam Penanganan Bencana”.

Selanjutnya, Prof. Din Syamsuddin memaparkan tema “Menafsir Bencana: Refleksi untuk Negeri”. Intinya, beliau mengatakan bahwa bencana perlu dipahami tidak sekadar fenomena alam, tetapi menjadi momentum refleksi moral dan sosial bangsa.

Komitmen dan Harapan ke Depan

Melalui Kajian Ramadhan 1447 H, Muhammadiyah berkomitmen untuk menjadikan nilai-nilai dan petunjuk syar’i dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahan untuk menangani persoalan lingkungan dan kebencanaan.

“Sebagai tradisi religius-ilmiah di tiap Ramadhan, PWM berharap bisa merekomendasikan langkah dan kebijakan strategis dalam aksi nyata resiliensi bencana, advokasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Prof. Biyanto.

Terakhir, dari kajian Ramadhan kali ini juga disepakati untuk menempatkan Kajian Ramadhan tahun 1448 H di Universitas Muhammadiyah Gresik.

Yossie / Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *