TROBOS.CO | Malam Kamis (7/10/2026) di Markas MAPAN, Desa Njaret, Kecamatan Candipuro, Lumajang, kembali diisi dengan kegiatan mengaji bersama. Suasananya tidak selalu hening dan serius. Sesekali terdengar tawa dan canda yang justru membuat suasana semakin akrab.
Para anggota MAPAN datang dari berbagai latar belakang dan kesibukan. Ada yang bekerja, mencari nafkah sebagai ojek online, berdagang, dan menjalani aktivitas masing-masing. Namun, di tengah kesibukan itu, mereka tetap berusaha menyempatkan waktu untuk belajar agama.
Mas Agung dan Canda yang Mencairkan Suasana
Salah satunya Mas Agung. Dengan gaya khasnya yang humoris, ia sering membuat suasana mengaji yang semula hening menjadi lebih cair. Candaannya membuat teman-teman yang hadir ikut tersenyum dan tertawa.
Bukan berarti mereka tidak serius mengaji. Justru suasana yang santai membuat proses belajar terasa lebih dekat, nyaman, dan tidak kaku.
Pendamping yang mendampingi kegiatan ini pun beberapa kali mengingatkan bahwa suasana ceria dalam majelis bukan sesuatu yang harus selalu dihindari, selama canda tetap dalam batas kewajaran dan tidak menghilangkan adab.
Nu’aiman, Sahabat Nabi yang Jenaka
Salah satu sosok sahabat Nabi ﷺ yang sering dijadikan contoh adalah Nu’aiman. Ia dikenal memiliki sifat jenaka. Dalam sejumlah riwayat dan kisah tentang para sahabat, Nu’aiman digambarkan sebagai sosok yang suka bercanda dan pernah membuat Rasulullah ﷺ tertawa.
Kisah tentang Nu’aiman menjadi pengingat bahwa kehidupan para sahabat pun tidak selalu berlangsung dalam suasana yang tegang. Ada ruang untuk tersenyum dan bercanda, tetapi tetap dalam kehidupan yang dekat dengan iman dan ketaatan.
Di sela-sela kegiatan, pendamping juga sering mengingatkan mereka dengan firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 29:
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
“Katakanlah, ‘Tuhanku menyuruh berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu kepada-Nya pada setiap masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya.’”
Pesannya sederhana: kita diciptakan oleh Allah dan kepada-Nya pula kita akan kembali.
Belajar dari Nol dengan Metode Ummi
Karena itu, belajar agama tidak perlu menunggu merasa sudah baik. Selama masih diberi kesempatan hidup, selalu ada ruang untuk memperbaiki diri.
Di Markas MAPAN, beberapa anggota bahkan datang dengan kesadaran bahwa mereka masih belajar dari nol. Membaca Al-Qur’an pun terus diperbaiki menggunakan Metode Ummi. Tidak ada rasa malu untuk mengatakan, “Saya masih belajar.”
Sebab yang terpenting bukan siapa yang paling cepat menguasai ilmu, tetapi siapa yang mau terus melangkah.
Mas Agung pun tetap berusaha hadir setiap malam Kamis di tengah kesibukannya mencari nafkah sebagai ojek online. Ia juga mengajak teman-teman dari Desa Pulo untuk ikut datang ke Markas MAPAN di Desa Njaret.
Dari Cangkrukan Menjadi Majelis Ilmu
Dari Desa Pulo menuju Desa Njaret, mereka dipertemukan dalam satu tempat sederhana untuk berkumpul, ngopi, cangkruk, sekaligus belajar agama. Latar belakang boleh berbeda. Kesibukan boleh berbeda. Cerita kehidupan masing-masing juga tidak sama. Tetapi dalam urusan tholabul ilmi, semangat untuk belajar jangan sampai kendor.
Sebab dakwah tidak selalu harus dimulai dari tempat yang besar. Kadang ia tumbuh dari tempat sederhana, dari secangkir kopi, obrolan ringan, canda yang membuat suasana cair, lalu berujung pada satu hal yang lebih penting: membuka Al-Qur’an dan belajar bersama.
Dari cangkrukan menjadi majelis ilmu. Dari ngopi menjadi ngaji. Dari belajar Al-Qur’an dari nol, semoga tumbuh kecintaan kepada Al-Qur’an.
Malam itu, Markas MAPAN kembali menjadi ruang kecil bagi mereka yang sedang berusaha memperbaiki diri. Kesibukan mencari nafkah untuk kehidupan dunia memang harus dijalani. Tetapi untuk urusan bekal menuju akhirat, jangan sampai kendor.
MAPAN: Ngopi, Ngaji, Nguripi Ati.
Penulis: Tim Trobos.co








