TROBOS.CO | Di antara ribuan kitab yang lahir dari peradaban Islam, ada satu karya yang berdiri di kelasnya sendiri sebagai rujukan paling komprehensif tentang kehidupan sesudah mati. Namanya At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah atau dalam terjemahan bebasnya: Peringatan tentang Keadaan Orang-orang yang Meninggal dan Perkara-perkara Akhirat.
Kitab ini ditulis oleh Imam Al-Qurthubi, ulama besar bermazhab Maliki yang juga dikenal sebagai penulis tafsir monumental Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Dalam dunia ilmu Islam, At-Tadzkirah diakui sebagai ensiklopedia eskatologi ilmu tentang akhirat yang tidak tertandingi kedalamannya.
Imam Al-Qurthubi tidak menulis kitab ini untuk mengejar reputasi akademik. Ia menulisnya sebagai pengingat pertama-tama untuk dirinya sendiri, kemudian untuk umat Islam seluruhnya. Ia merasa prihatin melihat betapa manusia begitu mudah terlena oleh dunia dan begitu lalai terhadap kematian yang kepastiannya tidak bisa ditawar.
Bagi Al-Qurthubi, mengingat mati bukan pesimisme. Ia adalah terapi jiwa yang paling jujur.
Yang membuat At-Tadzkirah istimewa adalah sistematikanya. Kitab ini tidak membahas akhirat secara acak, melainkan mengikuti urutan perjalanan ruh manusia secara kronologis dari detik pertama kematian hingga penentuan nasib di akhirat.
Kitab dibuka dengan bahasan tentang kematian itu sendiri: keutamaan mengingat maut, adab seputar sakaratul maut, dan hukum ziarah kubur. Dari sana, pembaca dibawa masuk ke alam barzakh membahas fitnah kubur, siksa dan nikmat yang dialami ruh setelah berpisah dari jasad, serta keadaan alam antara yang selama ini penuh misteri.
Pembahasan kemudian berlanjut ke tanda-tanda kiamat, baik yang kecil maupun yang besar, hingga gambaran kehancuran alam semesta saat sangkakala ditiup. Setelah itu, Al-Qurthubi mengajak pembaca memasuki Padang Mahsyar tempat seluruh manusia dikumpulkan, amal ditimbang, dan setiap jiwa berdiri sendiri di hadapan Rabb-nya.
Penutup kitab ini memaparkan syafaat Nabi Muhammad SAW, telaga Al-Haudh, jembatan Shafir, hingga deskripsi surga dan neraka yang begitu rinci hingga membuat pembaca tidak bisa tinggal diam.
Salah satu keunggulan At-Tadzkirah yang sering luput dari perhatian adalah metodologi ilmiahnya. Al-Qurthubi tidak sekadar mengumpulkan riwayat dan menuliskannya ulang. Ia menyeleksi, menganalisis, bahkan mentakhrij perawi hadis untuk memastikan validitas setiap riwayat yang ia cantumkan.
Sebagai ahli fikih, ia juga menyisipkan hukum-hukum praktis yang relevan mulai dari tata cara mengurus jenazah hingga adab ziarah kubur. Hasilnya adalah sebuah karya yang sekaligus berfungsi sebagai rujukan akidah, hadis, dan fikih dalam satu jilid.
Membaca At-Tadzkirah bukan pengalaman yang menyenangkan dalam artian biasa. Tapi ia memberikan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar menyenangkan: ia melembutkan hati yang mulai mengeras, memotong angan-angan kosong tentang dunia, dan membangkitkan semangat beramal yang mungkin sudah lama padam.
Al-Qurthubi menjaga keseimbangan dengan cermat antara khauf rasa takut akan azab kubur dan neraka dan raja’ harapan akan rahmat, ampunan, dan surga Allah. Tidak menakut-nakuti semata, tidak pula terlalu memberi angan-angan. Seimbang, seperti timbangan yang adil.
Bagi siapa pun yang ingin mengenal Islam tidak hanya dari sisi hukum dan ibadah, tetapi dari sisi yang lebih dalam tentang ke mana kita semua akan pergi At-Tadzkirah adalah pintu yang tepat untuk dibuka.
Sudono Syueb, Pengurus DDII Jawa Timur Bidang Kominfo





