Santri eLKISI Wakili Indonesia di Ifthar Al-Azhar Kairo 2026

banner 2560316

TROBOS.CO | Sabtu malam itu, 23 Mei 2026 bertepatan 6 Dzulhijjah 1447 H, langit Kairo menyimpan momen yang tidak akan mudah terlupakan oleh para santri Indonesia yang merantau ilmu di negeri para nabi.

Markaz Lughoh eLKISI mewakili Mahasiswa Islam Indonesia di Mesir menghadiri ifthar jamai yang digelar Markaz Tathwir Al-Azhar As-Syarief bersama Muasasah An-Naf’u Mesir.

Bagi mereka yang hadir, ini bukan sekadar acara buka puasa. Ini adalah pengakuan.

Acara dipandu oleh Duktur Husyam Syakir dengan nuansa yang syahdu dan berwibawa. Kehangatan langsung terasa ketika Al-Ustadzah Ad-Dukturah Nahlah Shaidy Penasihat Grand Syeikh Al-Azhar menyambut rombongan bersama Duktur Ridho Abdus-Salam dan Direktur Muasasah An-Naf’u.

Tidak ada jarak. Hanya adab, ilmu, dan ukhuwah yang mengalir.

Di negeri para nabi ini, santri eLKISI bukan sekadar tamu. Mereka adalah bagian dari keluarga besar keilmuan Islam dunia.

Malam itu, Dukturah Nahlah Shaidy menyampaikan pesan yang jauh melampaui sekadar ceramah Dzulhijjah.

Beliau mengingatkan para mahasiswa untuk mengisi bulan Dzulhijjah dengan taqarrub total kepada Allah. Lalu beliau mengurai sebuah definisi yang mengubah cara pandang tentang kekuatan:

“Muslim yang kuat bukan hanya tegap badannya. Ia kuat imannya, istiqamah amalnya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, dan mandiri hartanya.”

Lima pilar itu terasa seperti kurikulum hidup. Para santri yang datang ke Mesir untuk menuntut ilmu diingatkan kembali: ilmu tanpa iman dan amal hanya akan hampa. Mereka harus pulang kelak bukan hanya membawa gelar tapi membawa peradaban.

Momen buka puasa bersama itu menjadi ruang perjumpaan yang langka dan berharga. Di satu meja, para santri berdiskusi langsung dengan para masyaikh. Mereka menyampaikan kerinduan umat di Indonesia dan mendengarkan nasihat langsung dari penjaga ilmu Al-Azhar.

Malam itu, Markaz Lughoh eLKISI bukan hanya mewakili diri sendiri. Mereka sedang menyambung lidah jutaan santri di Nusantara kepada para ulama Al-Azhar.

Kedekatan eLKISI dengan Markaz Tathwir Al-Azhar adalah pintu yang kini terbuka lebih lebar. Akses ilmu, sanad, dan jaringan ulama yang terbangun malam itu adalah warisan bagi adik-adik santri yang akan menyusul kelak.

Dari Mojokerto hingga Kairo, benang peradaban sedang dirajut kuat dan penuh harapan.

Para santri pulang dari majelis itu dengan dada penuh. Bukan karena hidangannya. Tapi karena kehormatan dan amanah yang mereka bawa amanah menjadi Muslim Indonesia yang kuat versi Al-Azhar: beriman, berilmu, beramal, berakhlak, dan mandiri.

Malam 6 Dzulhijjah itu mengajarkan satu hal yang akan terus dikenang:

Bendera Indonesia berkibar paling tinggi ketika santrinya duduk semajelis dengan ulama — lalu pulang membawa cahaya untuk umat. *

Agung Purnomo

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *