Harba PII ke-79 di Pendopo Lumajang: Refleksi Kader dan Lima Bekal Menuju Pemimpin Berkualitas

banner 2560316

TROBOS.CO | Malam itu, Peringgitan Pendopo Kabupaten Lumajang terasa berbeda dari biasanya. Sekitar 75 orang berkumpul bukan untuk rapat, bukan untuk seremonial biasa tapi untuk merayakan sebuah perjalanan panjang yang sudah 79 tahun belum selesai.

Puncak peringatan Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (Harba PII) ke-79 Kabupaten Lumajang berlangsung Selasa (5/5/2026) malam santai, penuh makna, dan khidmat.

Ini juga bukan Harba biasa. Untuk pertama kalinya, peringatan ini digelar di Peringgitan Pendopo Kabupaten, bukan lagi di kantor PII Jalan Argopuro seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Keluarga Besar (KB) PII Lumajang, Jamal Abdullah Alkatiri, membuka pertemuan dengan catatan sejarah yang membanggakan sekaligus menjadi pengingat.

Kader PII Lumajang bukan sekadar aktivis. Mereka sudah membuktikan diri di panggung kepemimpinan daerah. Sejak almarhum Bupati Sjahrazat Masdar yang memimpin selama dua periode, hingga Wakil Bupati Bunda Indah yang kini naik menjadi Bupati Lumajang empat periode berturut-turut Lumajang dipimpin oleh kader PII.

“Bagi PII, mendukung kader yang terjun di Pilkada merupakan keharusan,” tegas Jamal. Saat pemilihan bupati lalu, warga PII dan keluarganya memberikan dukungan penuh kepada Bunda Indah.

Dalam sambutannya, Bupati Lumajang Ir. Indah Amperawati yang juga kader PII menyampaikan ucapan selamat Hari Bangkit kepada seluruh keluarga besar PII Lumajang.

Tapi ia tidak berhenti di selamat. Ada pesan berat yang ia titipkan kepada para kader.

“Jadi pemimpin itu berat. Tanggung jawabnya bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat,” ujarnya.

Ia mengenang pesan orang tuanya ayah dan ibunya yang selalu berkata bahwa jika ada rakyat yang kelaparan, itu adalah tanggung jawab pemimpinnya.

“Maka saya harus hati-hati, jangan sampai ada rakyat yang kelaparan,” ujar Bunda Indah dengan mantap.

Kepada para kader yang kini mendapat amanah di berbagai bidang, Bunda Indah berpesan agar menunaikan tugas dengan maksimal. “Apa yang kita lakukan secara maksimal belum tentu bisa memuaskan semua pihak. Tapi yang penting saya sudah berbuat baik,” tegasnya.

Pengurus KB PII sekaligus Ketua Dewan Dakwah Lumajang, Suharyo AP, SH, menyampaikan pencerahan tentang lima bekal kader PII dalam Harba ke-79. | Foto: Tim Trobos.co

Sesi pencerahan malam itu disampaikan oleh pengurus KB PII sekaligus Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Lumajang, Suharyo AP, SH.

Ia membuka dengan analogi yang langsung memantik pemikiran. Dalam tugas keumatan, kata Suharyo, ada dua model kepemimpinan yang bisa diteladani dari para nabi.

Model pertama adalah model Nabi Musa membenahi dari luar sistem, menggunakan kekuatan moral dan perlawanan untuk mendorong perubahan. Model kedua adalah model Nabi Yusuf masuk ke dalam sistem pemerintahan dan melakukan perbaikan dari dalam.

“PII Kabupaten Lumajang selama ini menggunakan pendekatan model Nabi Yusuf berkontribusi dalam membenahi pembangunan dari dalam pemerintahan,” jelas Suharyo. Fakta bahwa kader PII empat periode memimpin Lumajang adalah bukti nyata dari pendekatan itu.

Ke depan, Suharyo mengingatkan bahwa PII perlu terus menyiapkan kader yang berkualitas. Dan ada lima bekal yang ia nilai wajib ditanamkan.

Pertama, iman yang kuat. Tantangan ke depan soal keimanan semakin serius. Iman bisa naik dan bisa turun tapi dengan pondasi yang kokoh, kader mampu menghadapi segala goncangan zaman.

Kedua, ilmu yang luas dan terus diperbarui. Ilmu tidak boleh berhenti. Suharyo menyebut tiga tokoh yang kini mewarnai pemahaman keislaman generasi muda sebagai contoh rujukan: Gus Baha, Ustaz Abdul Somad, dan Ustaz Adi Hidayat.

Ketiga, amal saleh yang sebanyak-banyaknya. Kader PII harus menjadi pribadi yang tidak hanya berpikir, tapi juga berbuat.

Keempat, keahlian yang relevan. Tanpa keahlian, kader bisa tertinggal dan digilas oleh kemajuan zaman yang bergerak cepat.

Kelima, jaringan yang luas dan terpelihara. Ini adalah salah satu kelebihan PII yang sudah terbukti jaringan yang kuat membuat potensi saling menguatkan satu sama lain.

Dengan Harba ke-79 yang untuk pertama kalinya digelar di Peringgitan Pendopo Kabupaten, pikiran para aktivis PII Lumajang kembali terasah. Mereka pulang dengan satu tekad yang diperbarui: menjadi pelaku sejarah, bukan sekadar penonton zaman.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *