TROBOS.CO | Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia modern justru menghadapi paradoks eksistensial: pengetahuan berkembang begitu cepat, tetapi makna hidup semakin kabur. Buku Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia karya Cak Muhid hadir sebagai refleksi intelektual atas kegelisahan tersebut. Buku ini mengajak pembaca meninjau kembali cara manusia memahami pengetahuan dan hubungannya dengan makna hidup.
Berangkat dari wahyu pertama Al-Qur’an—Iqra’—penulis menafsirkan perintah tersebut bukan sekadar sebagai ajakan membaca dalam arti literasi, tetapi sebagai panggilan epistemologis yang mengaktifkan kesadaran manusia secara utuh. Dalam perspektif ini, membaca berarti memahami realitas dalam kesadaran ketuhanan, menghubungkan akal dengan wahyu, serta menempatkan pengetahuan dalam horizon tujuan hidup.
Secara konseptual, buku ini memetakan krisis epistemologi manusia modern yang ditandai oleh fragmentasi antara akal, hati, dan makna. Rasionalitas modern memang melahirkan kemajuan sains dan teknologi, tetapi sering kali menghasilkan rasionalitas teknis yang miskin orientasi makna. Pengetahuan berkembang secara metodologis, tetapi kehilangan arah teleologis—pertanyaan tentang tujuan hidup manusia.
Melalui dialog kritis dengan berbagai arus pemikiran modern seperti rasionalisme, empirisme, positivisme, hingga relativisme, penulis menunjukkan bahwa problem utama manusia modern bukanlah kekurangan pengetahuan, melainkan cara pengetahuan itu bekerja membentuk kesadaran manusia. Di sinilah epistemologi Qur’ani ditawarkan sebagai alternatif yang mampu mengintegrasikan akal, wahyu, dan tujuan hidup secara utuh.
Salah satu konsep penting yang diangkat dalam buku ini adalah Ulūl Albāb, yakni manusia yang mampu menyatukan dzikir dan fikir dalam satu kesadaran. Ulūl Albāb digambarkan sebagai subjek epistemik yang tidak hanya berpikir secara rasional, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang membimbingnya dalam memaknai realitas dan membangun peradaban yang bermakna.
Dari sisi struktur, buku ini disusun secara sistematis:
- Dimulai dari analisis krisis epistemologi modern
- Dilanjutkan dengan dialog kritis terhadap pemikiran Barat
- Hingga akhirnya menawarkan epistemologi Qur’ani berbasis konsep Iqra’, lā rayba, dan yaqīn sebagai jalan pulang bagi akal dan hati manusia.
Meskipun bersifat filosofis dan reflektif, buku ini memiliki nilai penting bagi kalangan akademisi, mahasiswa, santri, maupun pembaca umum yang memiliki kegelisahan intelektual tentang hubungan antara pengetahuan, iman, dan makna hidup. Buku ini tidak sekadar menyajikan teori, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan kembali arah pengetahuan dan tujuan keberadaan manusia.
Pada akhirnya, karya ini dapat dipahami sebagai undangan intelektual: sebuah ajakan untuk membaca kembali wahyu dan realitas secara lebih utuh. Melalui konsep Iqra’, Cak Muhid mengingatkan bahwa pengetahuan sejati bukan hanya tentang mengetahui dunia, tetapi juga tentang memahami makna hidup dan kembali kepada Tuhan.
Identitas Buku:
- Penulis: Cak Muhid
- Penerbit: eLKISI
- Tempat Terbit: Mojokerto
- Tahun Terbit: Februari 2026
- Tebal: xiv + 304 halaman
- Ukuran: 15 × 21 cm
- ISBN: 978-602-6382-36-8
Redaksi TROBOS.CO








