TROBOS.CO | Ada warung makan yang bertahan bukan karena mengikuti tren, tetapi karena mampu menjaga rasa dan kedekatan dengan pelanggan. Salah satunya Warung Mbak Luluk di Desa Labruk Lor, Kabupaten Lumajang. Warung ini telah menemani pelanggan selama 34 tahun.
Selama lebih dari tiga dekade, Warung Mbak Luluk menjadi salah satu tempat makan yang cukup dikenal masyarakat Lumajang. Menunya sederhana, merakyat, dan harganya bersahabat. Namun justru dari kesederhanaan itulah pelanggan datang dan kembali lagi.
Dari sekian banyak menu yang tersedia, sayur bening menjadi primadona. Kuahnya segar dan ringan, sangat cocok disantap bersama nasi hangat. Pasangannya pun tidak kalah menggoda, terutama bandeng presto dan pelas tongkol.
Selain itu, tersedia pula botok jamur dan perkedel kentang yang cukup banyak diminati. Menu-menu tersebut membuat pelanggan tidak perlu berpikir panjang ketika memilih makanan. Sayur bening, lauk pilihan, nasi hangat, sudah cukup membuat makan siang terasa lengkap.
Sebenarnya pilihan makanan di warung ini cukup beragam. Ada rawon, sayur lodeh, sayur sop, kare ayam, nasi pecel, nasi campur, hingga sayur kelor.
Untuk lauknya juga beraneka ragam. Mulai dari empal daging, rempelo ati, sate bumbu, bali ayam, bali telur, bandeng presto, pelas tongkol, botok jamur, tempe, perkedel jagung, hingga perkedel kentang.
Menariknya, konsumen Warung Mbak Luluk datang dari berbagai lapisan masyarakat. Namun ketika jam makan siang tiba, suasananya biasanya lebih ramai. Tidak sedikit karyawan Pemkab Lumajang yang mampir untuk menikmati menu rumahan yang disajikan.
Kekuatan warung ini memang bukan sekadar pada banyaknya pilihan menu. Rasa yang akrab dengan lidah masyarakat dan harga yang tidak menguras isi kantong menjadi alasan pelanggan tetap setia. Tidak mengherankan jika sebagian pelanggan Warung Mbak Luluk bisa disebut cukup fanatik.
Usia 34 tahun ternyata tidak membuat warung ini berhenti berkembang. Justru tempat usaha tersebut semakin membesar. Ada rencana pindah ke lokasi baru setelah kontrak tempat yang sekarang berakhir, sekitar satu tahun lagi.
Lokasi barunya berada di depan Rumah Sakit Muhammadiyah, di rumah milik keluarga almarhum Subur, 100 meter selatan warung Mbak Luluk yang sekarang. Tempat tersebut diharapkan menjadi babak baru perjalanan Warung Mbak Luluk.
“Insya Allah tahun depan kami pindah ke sana,” ujar suami Mbak Luluk, Subur Setiabudi.
Perjalanan 34 tahun Warung Mbak Luluk menunjukkan bahwa makanan tidak selalu harus mewah untuk membuat orang datang kembali. Kadang justru sepiring nasi, sayur bening, bandeng presto, dan pelas tongkol mampu menyimpan rasa yang membuat pelanggan terus rindu.
Penulis: Tim Trobos.co




