Bunda Indah: Kalau Anak Yatim Tak Makan, Saya yang Berdosa

banner 2560316

TROBOS.CO | Kalimat itu keluar begitu saja tanpa persiapan, tanpa naskah. Tapi justru karena itulah ia terasa begitu jujur.

“Kalau ada anak yatim sampai tidak makan karena kekurangan makanan, saya yang berdosa.”

Bupati Lumajang Ir. Indah Amperawati yang akrab disapa Bunda Indah mengucapkannya dengan nada yang serius. Bukan untuk pencitraan. Bukan untuk tepuk tangan. Tapi karena ia memang merasa itu adalah tanggung jawabnya.

Anak yatim, fakir miskin, siswa yang putus sekolah karena biaya, warga yang sakit tapi tidak punya uang untuk berobat di atas kertas, mereka hanyalah data. Tapi di kantor BAZNAS Lumajang, mereka hadir setiap hari dalam wujud yang nyata.

Setiap hari selalu ada yang datang. Ada yang menenteng surat keterangan tidak mampu. Ada yang membawa foto rumah yang hampir roboh. Ada ibu yang datang sendirian, memohon bantuan untuk anaknya yang sakit menahun.

Mereka datang bukan untuk meminta mereka datang karena tidak tahu harus ke mana lagi.

Bunda Indah tidak hanya bicara soal anak yatim di panti asuhan. Ia juga menitipkan pesan yang sama kepada seluruh jajarannya.

“Kalau ada siswa yang membutuhkan bantuan, utamakan mereka,” tegasnya.

Pesan itu bukan instruksi birokrasi. Itu adalah seruan moral yang mengingatkan bahwa di balik semua urusan pemerintahan yang sibuk dan kompleks, ada manusia-manusia kecil yang nasibnya bergantung pada kepedulian orang lain.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda tentang orang yang merawat anak yatim. Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang berdampingan rapat begitu dekatnya kelak posisi mereka di surga bersama Rasulullah.

Sebuah janji yang seharusnya cukup untuk menggerakkan siapa saja.

Kenyataannya, tidak semua orang bisa melihat ini.

Di balik kemewahan yang terlihat di permukaan di balik cafe yang ramai, mall yang penuh pengunjung, dan kendaraan yang memenuhi jalan ada warga yang butuh biaya bedah rumah karena atapnya sudah tidak aman. Ada musala sekolah yang butuh perbaikan. Ada keluarga yang malamnya tidak tahu besok makan apa.

Mereka tidak mengeluh di media sosial. Mereka diam dan menunggu.

Maka bagi siapa pun yang ditakdirkan memiliki kelebihan rezeki, ada cara paling bijak untuk mensyukurinya: salurkan zakat, infaq, dan sedekah melalui lembaga yang amanah BAZNAS maupun LAZ lain yang terpercaya.

Bukan sekadar kewajiban agama. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Tapi karena Allah telah berjanji: setiap harta yang disalurkan di jalan-Nya, akan dilipatgandakan kembali.

Dan di ujung itu semua, ada anak yatim yang hari ini bisa makan. Ada siswa yang bisa tetap sekolah. Ada keluarga yang bisa bertahan.

Kadang, hal-hal kecil seperti itu adalah segalanya bagi seseorang. *

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *