Daun yang Gugur Tak Pernah Membenci Angin: Renungan Ikhlas

banner 2560316

TROBOS.CO | Pernahkah kamu memperhatikan daun yang jatuh dari pohonnya?

Ia tidak berteriak. Tidak melawan. Tidak membenci angin yang membawanya pergi. Ia jatuh dengan tenang — seolah sudah tahu bahwa inilah bagian dari perjalanannya.

Ia lepas bukan karena lemah. Tapi karena waktunya memang telah tiba.

Bukan Karena Kamu Tidak Pantas

Dalam hidup, ada hal-hal yang pergi tanpa pamit. Orang yang kita sayang. Kesempatan yang kita tunggu. Rencana yang sudah kita susun rapi. Tiba-tiba — semuanya berubah.

Dan di saat itulah pertanyaan itu datang: mengapa?

Tapi mungkin jawabannya bukan tentang salah atau benar. Bukan tentang layak atau tidak layak. Semua yang pergi dari hidupmu, boleh jadi bukan karena kamu tidak pantas — tapi karena itu memang bukan lagi bagian dari takdirmu.

Ada yang lebih tahu kapan harus melepaskan. Dan Dia tidak pernah salah memutuskan.

Semua Telah Tertulis Sebelum Terjadi

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 22:

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Tidak ada satu pun kejadian yang luput dari catatan-Nya. Tidak ada satu pun kehilangan yang terjadi di luar pengetahuan-Nya. Semua sudah tertulis — jauh sebelum kita lahir, jauh sebelum kita menginginkan sesuatu, jauh sebelum kita merasa kehilangan.

Kesadaran itu bukan untuk membuat kita pasrah tanpa daya. Tapi untuk membuat kita tenang di tengah badai.

Belajar dari Cara Daun Berpamitan

Daun tidak membenci pohon yang melepasnya. Daun tidak menyalahkan angin yang membawanya. Daun tidak marah pada tanah yang menerimanya.

Ia hanya… jatuh. Dengan damai.

Begitulah seharusnya kita belajar melepas — tidak membenci keadaan, tidak menyalahkan takdir, tidak memendam amarah pada apa yang sudah pergi. Karena apa yang Allah Azza wa Jalla ambil, pada dasarnya tidak pernah benar-benar menjadi milik kita sepenuhnya.

Kita hanya dititipi. Dan setiap titipan, pada waktunya, akan kembali kepada pemilik-Nya yang sesungguhnya.

Ikhlaskan, Karena Semua Menuju Tempat yang Tepat

Jika hari ini ada yang hilang dari hidupmu — ada yang pergi, ada yang tidak lagi sama seperti dulu — izinkan dirimu untuk melepasnya dengan ikhlas.

Bukan berarti tidak boleh sedih. Bukan berarti harus pura-pura kuat. Tapi percayalah bahwa seperti daun yang gugur, semua yang lepas dari genggamanmu sedang menuju tempat yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan.

Dan di sana, semuanya akan baik-baik saja. *

Barakallahu fiikum.

Sigit Subiantoro

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *