TROBOS.CO | Sekitar 24 tahun kami bergerak dalam lapangan dakwah, baik dalam bentuk kajian atau ta’lim, ceramah, maupun khutbah, baik khutbah Jumat maupun khutbah Id. Sehari mengisi kajian dan ceramah, terkadang bisa berpindah ke dua sampai tiga tempat sekaligus.
Tidak jarang kami berangkat sebelum Subuh dan baru pulang malam hari, ketika anak-anak sudah terlelap tidur. Alhamdulillah, dari perjalanan panjang itu kami memiliki jamaah binaan di banyak tempat, yang kemudian menjadi kekuatan penopang berdirinya Pondok Pesantren eLKISI.
Dakwah membina umat tentu sangat penting, apalagi di daerah-daerah yang belum memiliki majelis ta’lim. Bahkan terkadang masih ada orang yang merasa aneh melihat orang-orang berduyun-duyun menuju majelis ta’lim, sebuah pemandangan yang bagi mereka belum menjadi kebiasaan.
Alhamdulillah, dengan keberadaan majelis ta’lim, kami memiliki kesempatan untuk bersilaturahim sekaligus menyampaikan ide dan gagasan tentang pendirian pesantren sebagai tempat kaderisasi. Alhamdulillah pula, para jamaah memberikan respons yang positif terkait gagasan pendirian pesantren ini.
Gagasan pendirian pesantren ini menjadi semakin kuat ketika kami mendengar secara langsung keresahan dari orang tua kami di Dewan Dakwah, H. Tamat Anshori Ismail. Beliau pernah berkata demikian:
“Dahulu, pada masamu saya datang ke pesantren ngomong sama kyai supaya dikirim da’i, besuk langsung dikirim. Berbeda dengan sekarang (1996) kita susah mencari da’i.”
Kalimat itulah yang mendasari mengapa kami harus mendirikan pesantren. Kami ingin menjawab keresahan orang tua yang sangat peduli dengan dakwah dan kaderisasi da’i tersebut.
Masya Allah, dukungan jamaah terhadap gagasan ini tidak sebatas perkataan semata, melainkan juga dukungan pikiran dan material. Maka kami pun mulai bergerak mengumpulkan wakaf dan memulai pembangunan pesantren.
Pada fase ini, tentu dibutuhkan pikiran, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Kegiatan ta’lim dan ceramah pun mulai sedikit terganggu, sehingga kami harus memahamkan kondisi ini kepada jamaah.
Alhamdulillah, jamaah-jamaah binaan sangat memahami situasi tersebut, sehingga tidak menjadi masalah ketika kami harus mengurangi aktivitas ta’lim untuk berkonsentrasi membangun pesantren. Ini bukan berarti kami tidak mau atau melupakan jamaah, melainkan justru sebagai upaya agar wakaf, sedekah, dan infak jamaah pahalanya terus mengalir kepada mereka.
Walaupun demikian, kami tetap berusaha menyambangi jamaah dengan ta’lim, meski intensitasnya tidak lagi sesering dulu.
(Insya Allah bersambung)
Cak Muhid










