Kemarau Panjang, Debit Sungai Mujur di Tempeh Terus Menurun

banner 2560316

TROBOS.CO | Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lumajang tahun ini turut membawa dampak pada Sungai Mujur, salah satu aliran sungai penting yang melintasi wilayah Kecamatan Tempeh. Sungai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekitar itu kini menghadapi tekanan akibat berkurangnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir.

Sungai Mujur sendiri berhulu di kawasan Gunung Semeru, dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 208,31 kilometer persegi. Aliran ini melintasi sejumlah desa di Kecamatan Tempeh, termasuk Desa Tempeh Tengah dan Desa Jatisari, sebelum menyatu dengan sistem sungai yang lebih besar di wilayah Lumajang.

banner 300250

Kecamatan Tempeh bukan nama baru dalam catatan kerawanan kekeringan Lumajang. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, sebelumnya telah memetakan Tempeh sebagai satu dari beberapa kecamatan yang rawan mengalami krisis air bersih setiap musim kemarau, bersama Ranuyoso, Klakah, Kedungjajang, Gucialit, Senduro, dan Padang.

Riwayat serupa juga pernah terjadi di sekitar aliran Sungai Mujur. Warga Desa Jatisari, khususnya Dusun Cerme, pernah mengalami kekeringan parah setelah sumber air bawah tanah mereka rusak akibat luapan lahar dingin dari Sungai Mujur. Saat itu, sejumlah warga bahkan terpaksa memanfaatkan air sungai yang keruh untuk kebutuhan mandi dan mencuci, lantaran sumur-sumur di sekitar rumah mereka mengering.

Kondisi musim kemarau tahun ini diperparah oleh fenomena El Nino yang tercatat berintensitas sangat kuat pada periode Juli hingga September 2026, dan diprediksi bertahan hingga awal 2027. BMKG bahkan telah menetapkan status kekeringan meteorologis untuk Dasarian II September 2026, dengan sejumlah wilayah masuk kategori Siaga hingga Awas akibat Hari Tanpa Hujan yang berkepanjangan.

Minimnya curah hujan dalam periode tersebut turut berdampak pada debit sejumlah sungai di Lumajang, tidak terkecuali Sungai Mujur yang menjadi urat nadi kehidupan warga Tempeh dan sekitarnya.

Di tengah kondisi ini, warga di sepanjang aliran Sungai Mujur menggantungkan harapan pada dua hal: turunnya hujan secara merata, dan kesiapan pemerintah daerah dalam mengantisipasi dampak lanjutan kekeringan. BPBD Lumajang sejauh ini telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak melalui ratusan titik distribusi, sebagai langkah mitigasi menghadapi puncak musim kering.

Bagi warga yang hidup berdampingan dengan Sungai Mujur, kondisi sungai bukan sekadar pemandangan alam. Ia adalah penopang kebutuhan air harian yang keberadaannya kini diuji oleh panjangnya musim kemarau tahun ini.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *