Zaman Edan Ranggawarsita Bertemu Al-Insyirah

banner 2560316

TROBOS.CO | Ratusan tahun lalu, pujangga besar Jawa Raden Ngabehi Ranggawarsita menuliskan sebuah bait yang hingga kini masih terasa menohok kenyataan. Dalam Serat Kalatidha, ia menggambarkan sebuah zaman yang penuh kekacauan, zaman ketika akal sehat serba sulit menemukan pijakan.

“Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi… Sakbegja-begjane sing lali, luwih begja sing eling lan waspada.”

banner 300250

Menghadapi zaman gila, serba sulit dalam bertindak, seuntung-untungnya orang yang lupa dan hanyut, masih lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada. Bait itu bukan sekadar keluhan seorang pujangga di masanya. Ia adalah diagnosa sosial yang, anehnya, terasa relevan lintas zaman. Ketika bait ini disandingkan dengan Surah Al-Insyirah dalam Al-Qur’an, muncul benang merah yang kuat soal bagaimana manusia menjaga ketahanan mental dan kejernihan batin di tengah krisis.

“Zaman edan” dalam gambaran Ranggawarsita adalah situasi ketika norma menjadi kabur, ketidakpastian meninggi, dan orang-orang yang mengejar ilusi justru tampak seperti pemenang. Situasi semacam ini secara alami menciptakan himpitan dalam dada, rasa sesak, bingung, dan cemas yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di titik itulah Surah Al-Insyirah hadir bagaikan jawaban atas kondisi batin tersebut. Jika Kalatidha menggambarkan dunia luar yang kacau dan membingungkan, Al-Insyirah justru berbicara tentang ruang batin yang dilapangkan.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Artinya: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (QS. Al-Insyirah: 1)

Al-Insyirah tidak menjanjikan bahwa zaman edan akan berubah seketika menjadi zaman ideal. Yang ditawarkan justru lebih mendasar, yaitu melapangkan ruang batin agar tidak ikut tergerus oleh kegilaan yang terjadi di luar sana. Kesadaran dinaikkan sedemikian rupa sehingga kesesakan zaman tidak sampai menguasai hati.

Konsep eling lan waspada dalam khazanah Jawa sesungguhnya sejajar dengan prinsip-prinsip yang diusung Al-Insyirah. Eling, atau ingat dan tetap terhubung, sepadan dengan orientasi kepada Tuhan yang digambarkan Al-Insyirah pada ayat kedelapan, “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” Keduanya berbicara tentang jangkar batin, sebuah pegangan agar manusia tidak hanyut oleh tren maupun godaan zaman, dan senantiasa ingat pada nilai kebenaran serta hakikat bahwa dunia ini hanya sementara.

Sementara waspada, yang berarti jeli dan presisi dalam membaca keadaan, sejalan dengan prinsip melihat kemudahan di balik kesulitan yang ditegaskan dalam ayat kelima dan keenam surah tersebut. Ini adalah soal kejernihan navigasi, kemampuan membaca momentum dan realitas secara objektif tanpa terdistorsi prasangka atau kepanikan.

Adapun mereka yang disebut sing lali, yang lupa dan hanyut, digambarkan Ranggawarsita sebagai pihak yang tampak beruntung sesaat. Namun dalam bingkai Al-Insyirah, kondisi ini justru dekat dengan gambaran beban yang memberatkan punggung pada ayat ketiga. Orang yang hanyut cenderung mengandalkan ilusi dan materialisme, yang pada akhirnya hanya menumpuk beban mental dan berujung pada kerugian yang hakiki.

Al-Insyirah menegaskan sebuah rumus kehidupan yang diulang dua kali agar benar-benar meresap.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Ada dua jalan yang bisa ditempuh manusia ketika berhadapan dengan zaman edan. Mereka yang memilih larut dalam kelalaian akan melihat kesulitan zaman sebagai alasan pembenaran untuk ikut-ikutan gila, demi merasa selamat sesaat. Jalan ini, betapapun tampak praktis, sesungguhnya hanyalah solusi semu. Sebaliknya, mereka yang memilih tetap eling lan waspada akan menyadari bahwa di balik kebingungan zaman selalu tersimpan ruang peluang, hikmah, dan kemurnian, sesuatu yang hanya bisa ditangkap oleh mata batin yang jernih.

Setelah dada dilapangkan dan kesadaran eling-waspada terjaga, Al-Insyirah menutup pesannya dengan petunjuk aksi yang sederhana namun mendalam.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

Artinya: “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah: 7-8)

Orang yang eling lan waspada di tengah zaman edan tidak menghabiskan energinya untuk mengutuki keadaan atau meratapi zaman yang serba tidak menentu. Ia justru memilih fokus pada tindakan nyata yang produktif. Begitu satu tugas selesai, ia berpindah ke karya berikutnya dengan batin yang tetap tenang, lepas dari keterikatan pada hasil, dan bersandar sepenuhnya kepada Sang Maha Memelihara.

Jika Serat Kalatidha adalah diagnosa realitas sosial tentang dunia luar yang bisa menjadi sangat bising dan tidak rasional, maka Surah Al-Insyirah hadir sebagai resep navigasi batin untuk menghadapinya. Keberuntungan sejati, dalam bahasa Ranggawarsita disebut begja, bukanlah soal ikut larut dalam arus kegilaan zaman demi kesenangan sesaat. Keberuntungan sejati adalah kemampuan menjaga dada tetap lapang, batin tetap eling, dan tindakan tetap waspada serta presisi, apa pun zaman yang sedang dihadapi.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *