TROBOS.CO | Banyak jalan menuju Roma. Begitu juga menuju Taqwa. Syekh Hamim Tohari menyebutkan ada tiga cara menuju taqwa.
Pertama, taqwa bisa ditempuh dengan memperbanyak dzikir. Orang yang rajin berdzikir, dijamin hatinya tenang.
Dan orang yang hatinya tenang perbuatan dan tingkah lakunya terkontrol baik. Jauh dari sikap temperamental, emosional, apalagi tanpa kontrol. Perbuatannya dalam bimbingan Allah.
Begitulah orang bertakwa tahap awal sebagaimana disebutkan Syekh Hamim Tohari.
Cara kedua taqwa bisa ditempuh dengan melaksanakan salat. Tentu salat yang baik, tepat waktu, khusyuk, tuma’ninah dan istiqomah.
Salat yang dilakukan seseorang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Inna sholata tanha ‘anil fahsyai wal munkar. Begitulah karakter orang bertakwa.
Cara ketiga, taqwa bisa diraih dengan puasa Ramadan. Puasa yang satu bulan penuh membakar dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Selain itu puasa menjadi tameng bagi orang yang akan berbuat dosa. Selamatlah mereka dari noda dan perbuatan yang menyebabkan Allah murka.
Dia mendapat anugerah kebaikan dari Allah: diselamatkan langkahnya, dibimbing jiwanya, dan hasil akhirnya dia menjadi pribadi yang bertakwa.
Orang bertaqwa bukan hanya rajin memutar tasbih. Itu perlu tapi bukan segala-galanya. Juga bukan orang yang selalu sibuk di mushola atau masjid.
Orang bertaqwa itu orang yang pikiran ucapan dan perbuatannya dalam bingkai agama. Kalau dia seorang pejabat jiwa takwanya kelihatan dari kebijakan yang diambil berpihak kepada rasa keadilan dan memuliakan sesama.
Bupati yang bertaqwa misalnya kebijakannya sejalan dengan nilai dan ajaran agama. Tidak segan-segan mengeluarkan surat edaran tentang perlunya salat tepat waktu.
Kalau ada adzan berkumandang, berhenti rapat. ASN langsung menuju tempat sujud untuk ruku menghadap kepada Allah.
Dokter yang bertaqwa melayani pasien penuh hati-hati. Dia yakin sembuh datang dari Allah. Dirinya sekedar mengihtiari menuju sembuh dengan obat yang tepat.
Politikus yang bertaqwa, politisi yang berpikir tentang kebaikan orang lain bukan diri sendiri semata. Maka produk hukum yang ditelurkan membawa kemaslahatan.
Pemulung yang bertakwa, ketika mengambil dan mengais sampah dianiati untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan kehancuran.
Orang tua bertakwa selalu berpikir keselamatan anak dan keluarganya. Mereka berikhtiar menjadi pribadi kuat iman, banyak amal shaleh, istiqomah dalam kebaikan, tekun menegakkan kebenaran dan keadilan.
Polisi bertaqwa selalu mementingkan keselamatan warga. Mereka berfungsi sebagai pengayom, dan pelayanan masyarakat. Mereka berprinsip tidak boleh ada ketidakadilan yang berkembang di atas bumi.
TNI yang bertakwa selalu menjaga kedaulatan bangsanya dari intervensi bangsa lain yang merusak kesatuan dan persatuan.
Masih banyak karakter dan ciri-ciri orang bertaqwa sesuai profesi masing-masing. Mereka ingin menjadi orang baik.
Dunia dan akhirnya dapat. Di alam semesta bahagia begitu pula di akhirat kelak tidak bersedih.
Berupayalah berpikir baik, bicara baik, dan berbuat terbaik. Insya Allah merasakan indahnya hidup.
Suharyo pemerhati masalah-masalah sepele







