Sepatu di Laci Mobil dan Adzan yang Selalu Didengar: Potret Batin Bupati

banner 2560316

TROBOS.CO | Saya sering merasa malu padanya. Dan bukan karena soal jabatan atau materi.

Tapi soal kekayaan batinnya.

Ia seorang bupati. Tapi itu bukan yang paling menarik dari dirinya.

Ia rajin berpuasa sunnah. Tapi ada yang membuatnya berbeda dari kebanyakan orang yang berpuasa: ia tidak memperlihatkannya kepada tamu.

Begitu ada yang datang berkunjung, makanan ringan dan minuman tetap tersaji di meja. Tidak ada isyarat, tidak ada kode, tidak ada hint bahwa ia sedang berpuasa.

Ia menutupi ibadahnya. Dan itulah yang justru membuatnya terasa begitu besar.

Saya mengaku kalah dalam soal puasa sunnah. Termasuk dalam banyak ibadah sosial lainnya.

Di antara hal-hal yang banyak orang akui tentangnya, ada satu yang paling konsisten: ketika adzan berkumandang, ia berhenti.

Apa pun yang sedang dikerjakan rapat, perjalanan dinas, kunjungan kalau adzan terdengar, ia tinggalkan. Kalau sedang dalam perjalanan dan adzan berbunyi, mobilnya belok ke masjid. Salat dulu. Baru melanjutkan tugas.

Bagi sebagian orang, itu terdengar sederhana. Tapi dalam kesibukan seorang kepala daerah, konsistensi seperti itu bukan hal yang mudah.

Ibadahnya tidak berhenti di ruang pribadi. Tahajud terjaga. Sedekah sosialnya tidak kurang.

Yang paling menggerakkan hati adalah sikapnya terhadap anak yatim. Ia rela memotong gajinya sendiri untuk memastikan anak-anak yatim bisa makan dengan layak.

“Jangan sampai ada anak yatim kelaparan. Kalau sampai ada, saya yang dosa,” ujarnya suatu ketika.

Kalimat itu bukan retorika. Ia mengatakannya dan menjalankannya.

Di lingkungan masyarakat, ia dikenal dengan tiga kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan.

Pertama, selalu terdepan ketika mendengar ada warganya sakit. Kedua, hadir di hajatan pernikahan tanpa memilih-milih. Ketiga, datang melayat ketika ada yang meninggal dunia.

Tiga hal itu terdengar sederhana. Tapi kehadiran yang konsisten bukan hanya sesekali itulah yang membuat orang menyukainya dengan tulus.

Ada kebiasaan baru yang belakangan diketahui banyak orang.

Di dalam mobilnya, selalu tersimpan sepatu anak-anak SD. Bukan untuk keperluan protokoler. Bukan untuk pencitraan.

Kalau dalam perjalanan ia melihat anak yang sepatunya berlubang atau jebol, sepatu itu langsung diserahkan. Diganti. Di tempat.

“Saya tidak ingin semangat anak-anak pudar. Mereka harus pintar menghadapi masa depan,” ujarnya.

Semua itu bukan tiba-tiba. Sejak muda, bakat sosialnya sudah terpelihara. Dan bukan tanpa sebab Abahnya, sang ayah, adalah seorang mubaligh yang menanamkan nilai-nilai itu jauh sebelum jabatan bupati itu ada.

Tentu ia punya kekurangan, seperti manusia lainnya. Tapi soal kekayaan batin, soal pengalaman spiritual, ia unggul di antara banyak orang yang saya kenal.

Dan itulah yang membuat saya sering merasa malu padanya. Dengan cara yang paling baik. *

Suharyo, Pemerhati Masalah Sepele

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *