Rumus Metafisika Islam: Perbaiki Batin, Allah Urus Duniamu

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada sebuah nasihat yang terdengar sederhana, tapi menyimpan logika yang luar biasa. Bukan logika duniawi yang mengukur sebab-akibat secara linear melainkan logika langit, yang bekerja dari dalam ke luar, dari yang abstrak menuju yang nyata.

Inilah formula metafisika Islam: siapa yang memperbaiki urusan batinnya bersama Allah, Allah yang akan membereskan urusan lahiriahnya bersama manusia.

Bagian pertama dari hikmah ini berbicara soal sesuatu yang sering kita abaikan: bahwa kualitas hubungan kita dengan sesama manusia sangat ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan Allah.

Hati seluruh makhluk berada di antara “dua jemari” Allah Yang Maha Rahman Dia membolak-balikkan hati sesuai kehendak-Nya. Ketika seseorang sungguh-sungguh taat dan dicintai Allah, sebuah mekanisme ilahi bekerja. Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk mencintainya, Jibril menyerukan kecintaan itu kepada penduduk langit, hingga akhirnya ditetapkan penerimaan di hati manusia di bumi sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari.

Ini bukan berarti semua orang akan menyukainya. Para nabi pun punya musuh. Maknanya lebih dalam dari itu: Allah akan membela, memberikan wibawa, dan menyatukan hatinya dengan orang-orang saleh dan terpilih.

Poin kedua berbicara soal sarirah apa yang tersembunyi di kedalaman diri saat seseorang sendirian. Keikhlasan, kesucian niat, ketakwaan di kala sepi. Inilah yang menentukan tampilan lahiriahnya di hadapan dunia.

Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baik pula seluruh tubuhnya. Itulah hati.

Orang yang sibuk memoles citra di depan manusia sementara batinnya busuk, lambat laun Allah akan membongkar aibnya sendiri. Sebaliknya, orang yang tulus di hadapan Allah, Allah akan memancarkan cahaya kesalehan pada wajah, tutur kata, dan perilaku lahiriahnya tanpa perlu rekayasa, tanpa perlu pencitraan.

Nur itu tidak bisa dibuat-buat. Ia hanya bisa dilahirkan dari batin yang benar-benar bersih.

Inilah bagian yang paling sering disalahpahami. Orang takut jika terlalu fokus pada akhirat, dunia akan ditinggalkan dan kehidupan menjadi susah. Rasulullah SAW membalik kekhawatiran itu lewat sabdanya yang diriwayatkan Tirmidzi: siapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-cita utama, Allah akan memberikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusan-urusannya yang cerai-berai, dan dunia akan datang dalam keadaan tunduk.

Allah tidak membiarkan hamba yang berfokus pada-Nya kelaparan. Justru kebutuhan duniawinya dijamin tercukupi agar pikirannya tidak tersita dari ibadah.

Ada sebuah analogi yang indah: orang yang mengejar dunia bagaikan mengejar bayangannya sendiri. Semakin keras berlari, semakin jauh bayangan itu. Tapi ketika ia berbalik arah mengejar akhirat bayangan dunia itu yang berbalik mengejarnya.

Tiga poin ini bukan sekadar nasihat rohani. Ini adalah hukum sebab-akibat yang bekerja di dimensi yang lebih tinggi dari yang bisa dilihat mata. Dan bagi siapa yang mau mencobanya dengan sungguh-sungguh, hasilnya tidak pernah mengecewakan.

Sudono Syueb, Pengurus DDII Jawa Timur Bidang Kominfo

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *