TROBOS.CO | Kabar duka. KH Abdul Halim Mahfudz , yang dikenal sebagai Gus Iim, pengasuh Pesantren Seblak di Jombang dan wartawan senior, wafat pada 8 April 2026 dan dimakamkan di kompleks Ponpes Seblak, Jombang.
Beliau adalah kakak dari KH Abdul Hakim Mahfudz (pengasuh Pesantren Tebuireng) dan dikenal sebagai sosok ulama penggerak yang aktif dalam dunia pendidikan, yayasan pesantren, serta komunikasi.
Gus Iim adalah sosok yang unik, kontroversi, dan memilih jalan yang berbeda sejak muda. Ia tidak aktif mengasuh pesantren tinggalan kakek dan ayahnya di Jombang. Ia malah pernah bekerja di Konsulat Jenderal AS, menjadi wartawan harian Surya, hingga aktif berkesenian di Balai Pemuda, Surabaya di era 90-an.
Beliau memiliki latar belakang akademis dan profesional yang kuat. Kuliah di Fakultas Adab, IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan kemudian pada tahun 1988 belajar Sejarah Asia Tenggara di Cornell University di Ithaca, New York.
Gus Iim lahir pada 17 Juli 1954, yang berarti meninggal pada usia 72 tahun.
Perjalanan karirnya sangat beragam. Ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal PSSI pada 14 September 2012. Penetapan Halim sebagai Sekjen PSSI terjadi dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI di Kantor PT Liga Prima Indonesia Sportindo.
Setelah malang melintang di jagad profesional, pada tahun 2017 ia kembali pulang kampung. Beliau mendapat amanat mengelola Yayasan Pendidikan dan Pesantren ROHMAH serta mengasuh Pesantren Seblak di Jombang.
Meski selisih 9 tahun, saya akrab dan berkomunikasi dengan baik dengan Gus Iim. Seperti kakak yang selalu membina juniornya. Di Jakarta pun beliau masih sering menyempatkan bertemu diskusi di tengah kesibukannya saat bekerja di The Asia Foundation, Coca-Cola Indonesia, Standard Chartered Bank, dan mendirikan perusahaannya sendiri, Halma Strategic.
Ia mewarnai kesenian dengan nilai-nilai pesantren. Ia masuk ke perusahaan asing dengan membawa warna “Jombang”-nya. Bahkan tiga tahun terakhir ini menjadi dosen di Universitas Ciputra.
Berdasarkan informasi di Universitas Ciputra, beliau lebih dikenal dalam kapasitas sebagai Director of Halal Academy Seblak dan pengasuh pondok pesantren.
Beliau dikenal sebagai figur ulama-intelektual, wartawan, dan pendidik yang menginspirasi kader muda Nahdlatul Ulama (NU).
Gus Iim memiliki impian membangun “kota halal” di Jombang yang dimulai dari desa halal, dengan menekankan prinsip halal pada pasar dan transaksi. Mimpi itu sering didiskusikan, namun belum terwujud. Selamat jalan, Gus. Allah sudah menunggu.
Yusron Aminulloh, Wartawan Senior.









