Ustad Nafi’ul Amri (1946–2021): Dari Anak Penjaga Kuburan hingga Pembina Seni Baca Al-Qur’an

TROBOS.CO – LUMAJANG | Di kalangan pecinta seni baca Al-Qur’an, nama Ustad Nafi’ul Amri bukan sosok asing. Beliau dikenal luas sebagai qori sekaligus pembina tilawah yang kharismatik dan rendah hati. Dengan penampilan gagah, suara merdu, dan tulisan Arab bak cetakan kitab, Ustad Nafi’ menjadi sosok yang dihormati di kalangan aktivis qiroah Lumajang hingga Jember.

Lahir sebagai putra keenam dari delapan bersaudara, Nafik kecil tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Martohanya, adalah penjaga kuburan, sementara ibunya, Rahayu, ibu rumah tangga biasa.
Sejak kecil, Nafik dikenal rajin mengaji dan tekun mempelajari qiroah. Suaranya indah dan menonjol di antara teman-teman sebayanya. Di sekolah pun, prestasinya gemilang — baik di pelajaran umum maupun agama.

banner 1280x716

Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. “Saya tahu beliau sempat sedih, tapi justru dari situ muncul tekad kuat untuk berjuang lewat Al-Qur’an,” tutur salah satu sahabatnya.

Bakat dan semangat Nafik menarik perhatian Ustad Nawawi Qodir dan Ustad Nawawi Kuniti, dua tokoh qiroah berpengaruh di Lumajang era 1960-an.
Bersama guru-gurunya, Nafik mulai menekuni tilawah dan tampil di berbagai acara keagamaan. Dari sinilah kariernya di bidang seni baca Al-Qur’an mulai dikenal luas.

Di bawah bimbingan Ustad Nawawi Qodir, Nafik menjadi asisten pengajar di Madrasah Nurul Islam Lumajang, pusat kegiatan Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz (Jamqur) tingkat cabang. Pada awal 1970-an, ia resmi diangkat sebagai guru qiroah menggantikan gurunya.

Semangat dakwah Ustad Nafik luar biasa. Ia rela berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk mengajar qiroah — meski hanya dengan sepeda onthel dan sering kehujanan di jalan.
Tidak seperti gurunya, Ustad Nawawi, beliau bukan pegawai negeri. Sumber rezekinya murni dari keberkahan Al-Qur’an.

“Ia sering berangkat hanya dengan uang pas-pasan. Kadang pulang jalan kaki, tapi tidak pernah mengeluh,” kenang Sjahsidi, sahabat karibnya.

Meski dikenal sebagai murid paling senior, Ustad Nafik jarang menonjolkan diri. Ia lebih memilih memberi kesempatan murid-muridnya tampil di berbagai lomba MTQ.
“Beliau benar-benar mementingkan kaderisasi,” ujar Ustad Masyfii Al Farabi, salah satu muridnya yang kini juga menjadi qori terkenal.

Setelah memiliki sepeda motor sekitar tahun 1975, aktivitasnya makin luas. Ia tak hanya mengajar, tapi juga menjadi juri di berbagai lomba MTQ, sekaligus membina generasi muda Jamqur.

Di sela-sela mengajar, Ustad Nafik sempat berinovasi dengan membuat kopi racikan herbal dari rempah-rempah. Rasanya khas dan disukai banyak kalangan qori.
“Ide itu muncul karena beliau suka ngopi setelah latihan qiroah,” ujar Bu Aminah, istrinya. Usaha kopi ini kemudian dilanjutkan oleh menantunya setelah Ustad Nafik wafat.

Pada Agustus 2021, kabar duka menyelimuti keluarga besar Jamqur. Ustad Nafi’ul Amri wafat dalam usia 75 tahun, setelah sempat sakit selama dua pekan.
Menurut istrinya, beliau meninggal dengan tenang setelah berwudhu. Ratusan murid, sahabat, dan masyarakat Lumajang datang untuk memberi penghormatan terakhir.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… Semoga amal kebaikannya diterima Allah SWT dan menjadi cahaya abadi,” ujar salah satu jamaah Jamqur.

Perjalanan hidup Ustad Nafi’ul Amri mengajarkan banyak hal: kesederhanaan, keteguhan, dan cinta sejati kepada Al-Qur’an. Dari anak penjaga kuburan, beliau tumbuh menjadi pembina tilawah yang melahirkan banyak qori berprestasi. Warisan spiritualnya tak hanya pada murid-muridnya, tapi juga pada setiap orang yang belajar bahwa keberkahan hidup datang dari ketulusan berjuang di jalan Ilahi.

Shodiq Syarief/TROBOS.CO

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *