TROBOS.CO | Genap 36 tahun telah berlalu sejak wafatnya seorang ulama kharismatik yang meninggalkan jejak sejarah mendalam di Lumajang: KH Anas Machfudz. Beliau wafat pada 21 Juli 1989 (17 Dzulhijjah 1409 H) di usia 84 tahun, meninggalkan warisan perjuangan dan karya monumental dalam dakwah Islam, khususnya bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Lamajang Tigang Kurung.
Lahir pada 1905 di Kampung Arab, Rogotrunan, Lumajang, Anas Machfudz adalah putra sulung dari 12 bersaudara pasangan KH Zain bin Idris dan Nyai Hj. Aminah. Sejak kecil, ia telah dibesarkan dalam lingkungan religius yang kuat, menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya sebagai ulama dan pendidik.
Pada usia 14 tahun, Anas kecil dikirim untuk menimba ilmu ke Pondok Jamsaren, Solo, kemudian melanjutkan ke Pondok Tebuireng, Jombang, di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Di Tebuireng, kecerdasan dan kesalehannya membuatnya menjadi santri kesayangan Mbah Hasyim. Ia sering diajak keliling ke berbagai majelis pengajian dan bahkan kerap dipercaya menjadi asisten khusus yang menggantikan sang guru jika berhalangan mengajar.
Setelah menimba ilmu, pada tahun 1928, Anas Machfudz muda memutuskan pulang ke Lumajang. Motivasinya jelas: membantu sang ayah, KH Zain bin Idris, mengembangkan pendidikan Islam dan memperjuangkan misi keagamaan di tengah situasi penjajahan Belanda. Saat itu, organisasi Nahdlatul Ulama (NU) juga baru saja berdiri dan perlu disosialisasikan.
“Saya ingin membantu Abah memajukan pendidikan Islam di Lumajang,” tutur KH Anas, seperti dikisahkan kembali oleh putranya, Gus Kafi.
Pada 1932, Anas Machfudz muda menunaikan ibadah haji. Ia tidak sekadar berhaji, tetapi juga memperdalam ilmu agama di Makkah Al-Mukarramah, meski harus menghadapi suasana krisis ekonomi global dan dampak Perang Dunia I. Setelah beberapa tahun, ia kembali ke Lumajang dengan bekal ilmu yang lebih matang, siap membantu dakwah sang ayah.
Melihat potensi besar anaknya, KH Zain berniat membangunkan pesantren untuk Anas. Namun, Anas muda menolak dengan halus. Ia memiliki strategi yang lebih tepat sasaran untuk kondisi saat itu: mencetak guru-guru madrasah ibtidaiyah.
“Beliau lebih memilih mengembangkan madrasah dan mencetak guru-guru kampung yang bisa sekaligus menjadi dai,” jelas Gus Kafi.
Bermodal Madrasah Nurul Islam (madrasah kota saat itu), Anas muda membimbing dan mencetak kader-kader guru muda, seperti Kyai Ridwan, Kyai Chudhori, Kyai Machfud Srebet, Kyai Syarif, Kyai Basyuni, dan banyak lainnya. Guru-guru inilah yang kemudian diterjunkan ke desa-desa, menjadi ujung tombak dakwah dan pendidikan agama di tingkat akar rumput.
Di bidang organisasi, KH Anas Machfudz bersama ayahandanya aktif membentuk pengurus NU di tingkat kecamatan dan desa. Hampir semua murid-muridnya yang telah dicetak menjadi guru, otomatis menjadi penggerak NU di wilayah masing-masing—sebuah strategi dakwah yang cerdas dan berjejaring.
Puncak perjuangan organisasinya adalah peresmian NU Cabang Lumajang pada tahun 1933, yang dihadiri langsung oleh KH Hasyim Asy’ari, didampingi KH Wahab Hasbullah dan Habib Robah dari Mesir. Acara akbar itu digelar di halaman Masjid Jamik (kini Masjid Agung KH Anas Machfudz).
Dalam struktur pertama NU Cabang Lumajang, KH Zain bin Idris menjabat sebagai Ketua Cabang, KH Ghozali (Gambiran) sebagai Rais Syuriah, sedangkan KH Anas Machfudz memilih posisi sebagai Sekretaris Cabang—jabatan strategis yang menjadi penggerak utama organisasi. (Bersambung)
Sodiq Syarif








