TROBOS.CO | Di antara riuh kendaraan yang melintas di ruas jalan Pasirian hingga Lumajang, sosoknya tampak mencolok. Nurwahid (50), atau yang akrab disapa Cak Nur, bukan sekadar pemulung biasa. Di atas sepeda pancal tuanya, ia mengibarkan bendera merah putih berukuran besar, sementara suara tape recorder mengiringi langkahnya menyusuri tepian jalan. Sebuah pemandangan yang telah menjadi bagian dari landscape keseharian kota.
Bagi pengendara yang sering melintas, Cak Nur sudah seperti penanda jalan. Tapi di balik penampilannya yang unik itu, tersimpan strategi survival yang cerdas.
“Bendera ini supaya saya terlihat. Pengendara jadi lebih hati-hati,” ujar Cak Nur dengan logat Jawa yang kental. Tape recorder yang selalu menyala juga punya fungsi serupa – sebagai penanda keberadaan dirinya di pinggir jalan yang rawan kecelakaan.
Dua HP Android yang selalu dibawanya pun punya peran masing-masing. Satu khusus untuk memutar lagu melalui speaker besar di stang sepeda, satunya lagi untuk menonton hiburan atau mencari informasi saat beristirahat.
Cak Nur memilih bekerja pada malam hari. “Siang terlalu panas, malam lebih sejuk dan jalan tidak terlalu ramai,” tuturnya. Dengan cahaya seadanya, ia menjelajahi sudut-sudut kota, mengais botol plastik, kardus, dan barang bekas lain yang masih bernilai ekonomi.
Daerah operasinya membentang dari Pasirian hingga Kota Lumajang. Karung besar di boncengan sepedanya perlahan terisi, menjadi sumber penghidupan untuk esok hari.
Ketika karungnya sudah penuh, Cak Nur langsung membawanya ke penampung langganan. “Kalau lagi ramai, seperti waktu karnaval, bisa dapat seratus ribu. Tapi hari biasa paling lima puluh ribu,” ceritanya.
Uang itu cukup untuk makan dan membeli pulsa. Tak lebih. Tapi baginya, itu sudah cukup. Yang penting bisa bertahan.
Cak Nur mengaku tidak memiliki rumah. Malam-malam ia tidur di emperan toko, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun yang menakjubkan, tak ada keluhan yang terpancar dari wajahnya. Justru ketabahan dan penerimaan yang tampak jelas.
“Hidup ini apa adanya. Saya terima saja,” ujarnya dengan senyum sederhana. Sebuah filosofi hidup yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah melewati berbagai tantangan.
Kisah Cak Nur mengajarkan kita bahwa martabat seseorang tidak diukur dari pekerjaannya, tapi dari cara ia menghadapi hidup. Di balik penampilannya sebagai pemulung, tersimpan kecerdasan bertahan hidup, konsistensi, dan keberanian untuk terus melangkah.
Dengan bendera merah putih yang berkibar dan suara musik yang mengiringi, Cak Nur tidak sekadar mencari nafkah. Ia juga mengibarkan semangat pantang menyerah – sebuah pelajaran berharga dari sosok yang justru sering kita abaikan kehadirannya.
Penulis: Bambang Mawas S.








