Api Literasi Tak Pernah Padam: Guru-Guru Sidoarjo Terbitkan Antologi Puisi ke-13

TROBOS.CO | SIDOARJO – Di tengah kesibukan mengajar dan tugas administratif, sekelompok guru di Sidoarjo membuktikan bahwa gairah literasi tak pernah padam. Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) yang telah berjalan selama empat tahun, kembali menelurkan sebuah mahakarya kolektif: buku antologi puisi ke-13 mereka yang berjudul “Mengajar dengan Cinta, Menulis dengan Hati”.

Buku tersebut resmi diluncurkan dalam acara spesial pada Minggu, 30 November 2025, di De Durian Park, kaki Gunung Anjasmoro, Wonosalam, Jombang. Peluncuran ini bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan atas konsistensi dan dedikasi para pendidik dalam merawat kata-kata.

banner 1280x716

Sejak berdiri, KGPS telah menetapkan ritme kreatif yang teratur: menerbitkan buku antologi puisi setiap tiga bulan. Kegiatan ini menjadi semacam “ruang napas” bagi para guru untuk mengekspresikan perasaan, renungan, dan pengalaman hidup di luar rutinitas kelas.

Di bawah arahan Endang Kusniati, Ketua KGPS, komunitas ini berfungsi sebagai jendela baru bagi anggotanya. “Kami diajak menatap kehidupan melalui jendela yang berbeda. Bukan jendela yang dibatasi halaman kurikulum, melainkan jendela tempat kata-kata dijalin menjadi sayap, dan puisi berdenyut sebagai napas,” tutur salah seorang anggota, menggambarkan proses kreatif di kelompok tersebut.

Acara peluncuran buku ke-13 ini dihelat di tengah kesegaran alam, diorchestrasi oleh Kris Maryono, pegiat seni budaya dan jurnalis senior RRI Surabaya era 1982–2019. Suasana yang syahdu dan penuh kekeluargaan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh yang turut memberi apresiasi.

Hadir dalam kesempatan tersebut Yusron Aminoellah (CEO De Durian Park), Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.MT. (Rektor UPN Veteran Jawa Timur), serta tamu undangan lain seperti Imung Mulyanto (jurnalis senior), Nila Paramita (Ketua Paguyuban Wahyu Laras Ati), dan perwakilan dari penerbit MejaTamu.

Kehadiran tokoh-tokoh tersebut tidak hanya memberi dukungan moral, tetapi juga mengukuhkan peran strategis guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai agen budaya dan penjaga tradisi literasi di masyarakat.

Setiap halaman antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi. Bagi para guru anggota KGPS, menulis adalah proses menajamkan pikiran dan perasaan. Buku antologi mereka digambarkan sebagai “pedang pengetahuan yang mereka tempa di sela kesibukan mengajar untuk menjaga api literasi tetap menyala.”

Judul “Mengajar dengan Cinta, Menulis dengan Hati” dengan sendirinya menjadi filosofi mereka. Dua aktivitas yang tampak berbeda—mendidik dan menulis—pada hakikatnya bersumber dari kesadaran dan ketulusan yang sama.

Keberhasilan KGPS menerbitkan 13 buku dalam empat tahun menjadi inspirasi nyata bagi komunitas pendidikan di daerah lain. Ini membuktikan bahwa minat dan bakat sastra dapat tumbuh subur di kalangan guru, asal ada wadah, komitmen, dan pembinaan yang berkelanjutan.

Pencapaian ini juga sejalan dengan gerakan literasi nasional, yang menekankan tidak hanya pada kemampuan membaca, tetapi juga pada kemampuan menghasilkan karya (literasi produktif). (@nTok/Trobos.co)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *