TROBOS.CO | LUMAJANG – Sebuah dedikasi yang langka di era digital. Selama 16 tahun penuh, Majalah Suara PGRI telah konsisten terbit, menjadi corong dan pena bagi komunitas guru di Lumajang dan sekitarnya. Di balik konsistensi itu, tersimpan cerita panjang tentang kesetiaan, regenerasi, dan semangat kolaborasi para pengelolanya yang silih berganti, namun selalu memiliki komitmen yang sama: menghidupkan media guru.
Majalah setebal 64 halaman ini telah menjadi saksi dan pencatat berbagai peristiwa, dari yang penuh sukacita hingga yang mengharukan. Perjalanannya tidak lepas dari pengorbanan dan kerja keras jajaran redaksi, termasuk mereka yang telah berpulang.
“Beberapa sahabat seperjuangan telah dipanggil Allah. Sebut Pak Nanang, Pak Joko Nirmolo, dan Pak Bambang. Mereka selalu bersama mengelola majalah guru ini. Mereka mendahului kami menuju tempat istirahat abadi,” kenang Jupri AR, salah seorang redaktur yang kini masih aktif, kepada TROBOS.CO.
Selain yang telah tiada, ada juga nama-nama yang harus berpindah tugas. Seperti Pak Parno, yang sangat aktif di masa awal, namun harus mengundurkan diri setelah dimutasi ke daerah asalnya di Jawa Tengah.
Di tengah dinamika tersebut, beberapa nama menjadi pilar kesetiaan yang bertahan mengelola majalah sejak awal. Mereka adalah Ibu Lilik Nurdiani, Ibu Budiasih, Pak Gatot Haryoto, Pak Agus Sukiyanto, Pak Ridwan, Pak Suharyo AP, serta para Ketua PGRI Kabupaten Lumajang yang bertugas sebagai penanggung jawab secara bergantian.
Untuk mengisi kekosongan dan menjaga napas panjang media ini, lahirlah regenerasi. Nama-nama seperti Pak Bakri dan Pak Jupri AR muncul sebagai generasi pengganti. “Dua nama ini terbilang masih muda sehingga banyak berperan dalam perjalanan majalah,” tutur salah satu pengurus senior.
Meski bergerak dengan segala keterbatasan khas media lokal, semangat untuk konsisten terbit tak pernah padam. Pelan tapi pasti, reputasi Majalah Suara PGRI merambat melampaui batas wilayah.
Bagi guru-guru di Kabupaten Lumajang, majalah ini sudah seperti rumah. Mereka aktif menyalurkan tulisan dalam berbagai bentuk: laporan kegiatan sekolah, opini, cerpen, puisi, artikel teknologi informasi (IT), liputan prestasi, hingga tulisan keagamaan.
Yang lebih membanggakan, daya tariknya mampu menjangkau penulis dari berbagai penjuru Nusantara. “Ada penulis yang datang dari Probolinggo, Jember, Surabaya, Malang, Solo, Kabupaten Buru Ambon, Jakarta, dan lain-lain,” jelas Jupri AR.
Fakta ini membuktikan bahwa dengan konsistensi dan kualitas, sebuah media yang terbit dari kota kecil seperti Lumajang mampu menjadi wadah berskala nasional, mengundang dan menghubungkan suara-suara pendidikan dari berbagai daerah.
Enam belas tahun bukan waktu yang singkat. Majalah Suara PGRI telah melampaui fungsinya sebagai sekadar media internal. Ia telah menjadi kawah candradimuka yang melahirkan dan mengasah penulis-penulis lokal yang handal dan produktif.
Kisah di balik layarnya adalah cermin dari nilai-nilai perserikatan: setia kawan, pantang menyerah, dan kerelaan untuk meneruskan estafet. Ia adalah bukti nyata bahwa tradisi literasi di kalangan guru tetap hidup dan berkembang, ditopang oleh dedikasi para pengabdi di belakangnya.
Tim Redaksi TROBOS.CO









