TROBOS.CO | Di sebuah pucuk pohon kelapa, seekor monyet bertengger dengan tenang. Ia tak menyadari dirinya sedang menjadi objek taruhan tiga angin perkasa: Topan, Tornado, dan Twister. Mereka bertaruh siapa yang paling cepat mampu menjatuhkan si monyet dari ketinggian.
Topan yakin bisa melakukannya dalam 45 detik. Tornado lebih percaya diri, 30 detik. Twister paling optimis, cukup 15 detik. Maka, berangkatlah mereka membuktikan klaim masing-masing.
Topan yang pertama beraksi. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya, meniup sekencang-kencangnya. “Wuuusss…” Merasa terancam, monyet itu segera memeluk erat batang pohon dengan sekuat tenaga. Beberapa menit berlalu, monyet tetap bertahan. Topan menyerah.
Giliran Tornado. Tiupannya lebih dahsyat lagi. “Wuuusss… Wuuusss…” Namun, sebagai respons, si monyet justru mencengkeram lebih kuat, bahkan dengan cakar kakinya. Tornado pun akhirnya mengaku kalah.
Twister maju dengan strategi berbeda. Ia tidak hanya meniup, tetapi juga memelintir anginnya untuk mencabut sang monyet. “Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss…” Tapi, monyet itu bertahan dengan cara luar biasa: ekornya dililitkan ke batang pohon, menambah cengkeramannya. Twister pun gagal.
Ketiga angin besar itu mengakui kekalahan. Mereka mengagumi si monyet yang tangguh, ulet, dan memiliki daya tahan luar biasa menghadapi cobaan seberat apapun.
Tak lama kemudian, datanglah angin Sepoi-sepoi. Dengan tenang, ia menyatakan bisa menjatuhkan si monyet. Mendengar klaim itu, ketiga angin besar tertawa terbahak-bahak. “Kami yang perkasa saja gagal, mana mungkin kau yang lembut bisa?” ejek mereka.
Tanpa banyak bicara, angin Sepoi-sepoi pun bertindak. Ia tidak meniup kencang. Ia justru mengirimkan hembusan lembut dan sejuk ke ubun-ubun si monyet. “Nyesss…”
Rasanya enak, adem, dan segar. Mata si monyet yang waspada mulai berkedip-kedip, riyep-riyep. Perlahan, rasa nyaman itu melenakan. Dalam buaian kenikmatan itu, ia tertidur. Saat tidurnya lelap, secara otomatis cengkeraman tangan, kaki, dan lilitan ekornya melepas. Dan… jatuhlah si monyet.
Kisah alegori ini menyimpan pelajaran yang dalam tentang kehidupan:
-
Cobaan yang keras (seperti Topan, Tornado, Twister) justru mengasah kita. Ia memaksa kita untuk berpegangan lebih erat, berpikir lebih jernih, dan mengerahkan seluruh daya tahan. Di balik tekanan besar, karakter kita ditempa menjadi lebih kuat dan tangguh. Kita waspada dan siap siaga.
-
Kenikmatan dan kenyamanan (seperti angin Sepoi-sepoi) sering kali lebih berbahaya. Ia datang dengan lembut, terasa menyenangkan, dan membuat kita lengah. Tanpa disadari, kita melepaskan kewaspadaan dan pegangan hidup kita. Kenikmatan itu bisa berupa pujian berlebihan, kehidupan yang mudah, zona nyaman yang berkepanjangan, atau godaan halus yang melunturkan prinsip.
Pesan moralnya jelas: “Cobaan berat bisa mengasah kita jadi lebih kuat. Kenikmatan bisa membuat kita jadi lupa daratan.”
Dalam perjalanan karir, bisnis, hubungan, atau ibadah, kita sering kali mampu bertahan menghadapi krisis, tekanan, dan tantangan besar. Justru di saat segalanya mulai nyaman, mapan, dan penuh pujian, kewaspadaan kita menurun. Di situlah risiko terbesar mengintai.
Mari selalu ingat kisah monyet ini. Jadilah pribadi yang tahan banting terhadap badai, tetapi juga waspada dan bijak menyikapi setiap hembusan angin sepoi-sepoi kenikmatan. Jagalah pegangan prinsip hidup kita, jangan sampai terlelap dan terjatuh karena terbuai kenyamanan semu.
Oleh, Teguh Wahyu Utomo, penulis penerjemah buku, tinggal di Surabaya.









