Tafsir QS At-Takatsur: Analisis Dampak Hedonisme & ‘Serakahnomic’ terhadap Korupsi dan Kesenjangan Sosial

TROBOS.CO | Maraknya gaya hidup hedonistik dan praktik ekonomi serakah yang disebut “Serakahnomic” erat kaitannya dengan tingginya kasus korupsi dan manipulasi. Menurut Ir. Widodo Djaelani, alumni Universitas Merdeka dan Universitas Muhammadiyah Malang, fenomena ini telah diperingatkan dalam Al-Qur’an Surat At-Takatsur.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,” kutip Widodo mengawali analisisnya. Ia menjelaskan, “bermegahan” adalah hasrat untuk dipuji dan diagungkan lewat kemampuan finansial dan jabatan. Sementara “dilalaikan” berarti menjadi kurang waspada, sembrono, dan lengah karena terpukau pada kesenangan duniawi yang memabukkan.

banner 1280x716

Widodo memaparkan, kelalaian ini berimbas pada tiga hal:

  1. Lalai dari ibadah dan mengingat Tuhan.

  2. Enggan beramal saleh untuk kemaslahatan umum karena sifat kikir dan rakus.

  3. ️ Tenggelam dalam persaingan memuaskan nafsu bermegah hingga lupa batas halal-haram.

“Kiranya nafsu ini bisa melalaikan sampai usia lanjut, bahkan sampai datang kematian,” tulisnya, merujuk pada lanjutan ayat tentang ‘masuk liang kubur’.

Widodo mendefinisikan dua istilah kunci yang saling terkait:

  • Hedonisme: Paham yang menempatkan kemewahan dan kesenangan sebagai tujuan hidup utama.

  • Serakahnomic: Model ekonomi yang digerakkan oleh monopoli dan keserakahan, bukan keadilan dan kemaslahatan bersama.

“Kiranya hal ini berkelindan erat kaitannya dengan berbagai kejahatan korupsi dan manipulasi,” tegasnya.

Ia menggambarkan karakter orang yang terjangkit mental ini dengan pepatah Jawa “sepuh sepa tuwo tuwas” (tua usia tapi tak berisi). Pribadinya hampa namun menyombongkan diri, dengan ciri:

  • Suka pamer (riya’), sombong, dan hedon.

  • Suka mencaci, hasad, dan dengki.

  • Pemarah, egois tinggi, dan suka bermusuhan.

  • Tidak suka bersedekah, kikir, dan serakah.

“Suatu perilaku yang bisa menjurus suka pada ide Serakahnomic,” imbuhnya.

Ayat yang mengancam “neraka Jahim” dimaknai Widodo sebagai konsekuensi nyata. “Pasti akan ditemui kesengsaraan, baik bagi dirinya maupun orang banyak, karena maraknya kejahatan yang ditimbulkan.”

Ia memberikan contoh konkret: “Apa yang terjadi pada negara yang kaya sumber daya alam, tetapi ironisnya rakyatnya sengsara? Kekayaan hanya dikuasai segelintir orang. Ini disebut sengsara sebelum masuk neraka kelak di akhirat.”

Widodo menekankan pentingnya peringatan yang diulang dalam ayat: “Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui.” Peringatan ini adalah seruan untuk segera menghindar dan mengubah diri, karena dampak buruknya—baik cepat atau lambat—pasti akan nyata.

Analisis ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah ritual, tetapi juga pedoman membaca krisis sosial-ekonomi kontemporer, dengan akar masalah pada kerusakan moral individu dan kolektif.

Ir. Widodo Djaelani (Pemerhati Sains-Spiritualitas, Jember)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *