Sujud dan Mendekat: Jalan Mendapatkan Petunjuk Agung

TROBOS.CO | Strategi tertinggi meraih kemenangan dalam hidup adalah kepekaan mengetahui rahasia di balik yang tampak. Melihat yang belum berbentuk, mendengar yang tak bersuara—itu adalah wujud kepekaan sejati. Dan untuk mencapainya, manusia membutuhkan petunjuk dari Sang Pemilik Ilmu.

Demikian tulis Ir. Widodo Djaelani, alumni Universitas Muhammadiyah Malang, dalam refleksi spiritualnya. Menurutnya, rahasia di balik yang tersembunyi bersifat berlapis dan tidak sederhana. Diperlukan kesabaran, ketekunan, dan kesadaran tinggi untuk menyelaminya.

banner 1142x1600

“Dalam makna berlapis, ada tingkatan: lapisan luar yang tampak, lapisan dalam yang perlu dikupas, dan lapisan terdalam yang butuh dibelah untuk tahu intinya,” jelasnya.

Dalam ranah spiritual, mendekati lapisan terdalam membutuhkan pendekatan yang pelan dan lembut. Bukan dengan kerasnya logika, tetapi dengan ketenangan hati. Proses ini melintasi lapisan qalbu, ruh, hingga sirr (rahasia terdalam hati).

“Rahasia tersembunyi terbuka saat ego melembut dan pasrah sumarah kepada Allah,” tulisnya. Inilah ruang di mana seseorang bisa “mendengar tanpa suara”—sesuatu yang hanya dipahami oleh hati yang jernih.

Ia mengibaratkan dengan hukum matematika: jika bilangan dibagi nol, hasilnya tak terhingga. Begitu pula dalam kesadaran. “Jika kesadaran riil masuk dalam kekosongan (ketiadaan ego), maka yang terjadi adalah kesadaran luas tak terbatas.”

Ada kaitan erat antara pemahaman ini dengan ibadah shalat tahajud dan Ayat Kursi. Dalam Ayat Kursi, Allah digambarkan sebagai tempat bergantung segala sesuatu, Yang Maha Mengetahui detail rahasia masa lalu dan masa depan.

Sementara tahajud, yang dilakukan pada sepertiga malam terakhir dengan kekhusyukan mendalam, adalah saluran untuk menerima “perkataan berat” atau petunjuk agung.

“Jadi ada tahapan lapisan yang dijalani: kesucian lahir batin, kekhusyukan dalam menjalani, waktu keheningan yang diperlukan, lalu datangnya petunjuk agung,” papar Widodo.

Penulis mengingatkan bahwa petunjuk dan sifat manusia yang dhaif (lemah) adalah pasangan yang selalu ada dalam kehidupan. Manusia butuh petunjuk terus-menerus karena sifatnya yang penuh kesalahan dan kelalaian.

Oleh karena itulah, perintah shalat yang diulang-ulang memiliki hikmah besar. Pengulangan itu mengantar pada pembiasaan baik, yang akhirnya membentuk akhlak mulia.

“Akhlak ini akan menghasilkan perilaku takwa untuk kemaslahatan orang banyak,” tutupnya.

Dengan demikian, perjalanan spiritual—melalui sujud, tahajud, dan pendekatan hati—bukan hanya untuk kesalehan individu. Ia adalah proses untuk membentuk pribadi yang lebih peka, bijak, dan bermanfaat bagi sesama, berbekal petunjuk yang datang dari keheningan dan penyerahan diri yang tulus.

Ir. Widodo Djaelani, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *