TROBOS.CO | Andaikan ada orang memberi uang baru Rp 100.000 (kondisi uang masih baru), diterima atau ditolak? Jawabnya: pasti diterima.
Lantas ada orang memberi uang Rp 100 ribuan. Uang kertas tersebut sudah diremet-remet: lungset. Diterima atau ditolak? Hampir bisa dipastikan: diterima.
Lantas ada orang menginjak-injak uang Rp 100.000-an di atas tanah. Setelah kotor, uang itu diberikan pada kita. Masih mau menerima kah?
Kayaknya masih mau. Seolah-olah tidak ada masalah. Mengapa orang mau menerima uang tersebut dalam kondisi yang beragam?
Sebab orang bukan hanya melihat fisiknya, tetapi yang dilihat nilainya. Jadi uang baru, uang lungset, atau uang yang diinjak-injak di tanah, nilainya sama, tidak berubah apalagi berkurang, yaitu tetap Rp 100.000.
Begitulah nilai uang.
Manusia Juga Begitu
Bagaimana dengan manusia? Mereka bisa diterima siapapun dalam kondisi bagaimanapun, sepanjang punya nilai. Integritas dan kualitasnya terjaga, mereka tetap bisa diterima dan berharga.
Orang yang punya integritas adalah mereka yang mengamalkan ajaran agama dengan sungguh-sungguh.
Selain sesama manusia menghargai, Allah pun memberi layanan khusus kepada orang yang serius dalam beragama. Kepada mereka diberikan bermacam bonus.
Tiga Bonus dari Allah
Pertama, maghfiroh atau ampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Sebesar apapun dosa yang diperbuat manusia, asal mau bertobat, Allah menerima tobat hamba-Nya, kecuali dosa syirik.
Kedua, Allah memberi bonus sakinah, yaitu jiwa yang damai dan tenang. Berdzikir, baca Al-Qur’an, dan salat menyebabkan jiwa seseorang menjadi tenang. Ketahuilah, orang yang banyak dzikir hatinya damai, begitu firman Allah.
Ketiga, bonus yang Allah berikan bernama hubbillah, yaitu rasa cinta kepada Allah yang mendalam sehingga ibadahnya semakin mantap dan menjadi-jadi.
Allah memberi bonus banyak sekali, dan itu hanya diberikan kepada hamba-Nya yang rajin dan istiqomah beribadah.
Penulis: Suharyo, pemerhati masalah sepele.
Disampaikan pada kuliah tarawih Masjid Al-Ikhlash, Lumajang.









