TROBOS.CO | Pergantian tahun bukan sekadar pergeseran angka pada kalender. Menurut Didik P Wicaksono, pemerhati sosial digital dan budaya kontemporer, momen ini adalah pintu masuk untuk merefleksikan bagaimana manusia—dalam lintas peradaban dan kepercayaan—membaca waktu, dari pengamatan langit purba hingga algoritma digital masa kini.
Dalam esainya, Didik menyoroti beragam sistem penanggalan yang kita gunakan dan maknanya di era modern. “Kalender matahari (solar) mengatur ritme kerja dan ekonomi global. Dalam Islam yang rasional, memanfaatkannya adalah ikhtiar mengelola dunia secara efisien,” tulis Didik. Sementara kalender bulan (lunar) memiliki posisi khusus untuk ibadah. “Di era satelit dan software hisab, ketepatan ilmiah dan keterbukaan data justru bukti kesungguhan beragama.”
Sistem lunisolar dan tradisi lokal seperti neptu di Jawa, menurutnya, adalah warisan pengetahuan yang membantu membaca musim dan mengatur ritme sosial. “Namun di era ramalan digital, tradisi ini harus ditempatkan sebagai ekspresi budaya, bukan penentu nasib yang gaib,” tegasnya.
Didik mengingatkan, Al-Qur’an berulang menyuruh manusia memperhatikan langit. “Isyarat ini melahirkan ilmu falak dan astronomi. Sains modern bahkan membuktikan waktu itu relatif—terpengaruh kecepatan dan gravitasi.” Fenomena ini terasa nyata di era digital: “Scroll media sosial berjam-jam terasa singkat, menunggu kepastian info beberapa detik terasa lama.”
Refleksi paling dalam datang dari kisah Nabi Ibrahim. “Beliau mengamati benda langit, lalu sadar: yang berubah dan terbatas tak layak dijadikan sandaran keyakinan,” tulis Didik.
Pelajaran ini, menurutnya, sangat relevan di era algoritma dan AI. “Data dan kecerdasan buatan tidak bisa jadi penentu nasib mutlak. Tanpa bimbingan nilai dan tauhid, kecanggihan teknologi justru berpotensi menyesatkan.”
Didik menutup dengan seruan agar pergantian tahun menjadi ruang refleksi etis. “Waktu yang berlalu adalah akumulasi amal dan kontribusi nyata. Kesadaran tauhid harus mendorong kita untuk memperbarui iman, menajamkan akal, menggunakan teknologi secara beradab, dan menciptakan kemajuan yang memuliakan manusia.”
Dengan demikian, tahun baru bukan sekadar perayaan, melainkan titik tolak untuk hidup yang lebih bermakna, cerdas, dan beretika di tengah arus digital yang deras.
Didik P Wicaksono (Pemerhati Sosial Digital & Budaya Kontemporer)








