Puasa, Pertahanan dan Energi: Membaca Krisis Global dari Perspektif Ramadan

banner 2560316

TROBOS.COPertahanan atau defense, adalah satu atribut negara atau bangsa yang penting, yaitu kemampuannya untuk mempertahankan integritasnya dalam dinamika global.

Kekaisaran Romawi yang sangat luas, akhirnya runtuh di pertengahan milenium pertama karena pertahanannya hancur. Ada serangan eksternal dari bangsa-bangsa Jermanik dari utara, dan krisis internal: krisis ekonomi dan inflasi, ketidakstabilan politik dan korupsi, lingkungan dan penyakit, serta perpecahan. Selanjutnya pusat kekuatan berpindah dari Roma ke Konstantinopel (sekarang Istanbul) yang masih eksis hingga penaklukannya oleh Muhammad Al Fatih di akhir abad 15.

Dari Pax Americana ke Dunia Multipolar

Pada Abad 21 ini kita menyaksikan degradasi Pax Americana yang dipimpin AS di bawah Donald Trump, serta kebangkitan China. Dunia tidak lagi unipolar selama 20 tahun lebih sejak keruntuhan Uni Soviet 1990-an, namun makin multi-polar dengan kemunculan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).

Beberapa pengamat seperti Fareed Zakaria sudah menarasikan A Post-American World. Bahkan Emmanuel Todd menyebutnya The Defeat of the West (2024). Todd menyebut 3 sebab:

  • Nilai-nilai agama ditinggalkan
  • Deindustrialisasi
  • Disintegrasi sosial akibat penurunan kesehatan, dan peningkatan kekerasan di masyarakat

Ciri masyarakat “dunia maju” yang kini mundur itu adalah obesitas, termasuk energy-obese dengan tingkat konsumsi energi per kapita yang berlebihan (sekitar 7-10 kL setara minyak per tahun), sementara kita hanya 10% nya saja.

Kegendutan Energi dan Kerapuhan AS

Karena persoalan yang sama, kita sedang menyaksikan keruntuhan Pax Americana. Kegendutan energi telah menyebabkan AS makin rapuh dari dalam. Masyarakat AS digerogoti oleh Penyakit Tidak Menular (jantung, diabetes, stroke, kanker) yang serius.

Seperti Romawi, makin tampak AS mengalami overstretched. Bahkan kini banyak pangkalan militer AS di Timur Tengah menjadi bebek lumpuh menghadapi rudal dan drone Iran. Kelumpuhan ini, ironically, justru karena mereka mudah sekali kelaparan energi, apalagi menghadapi serangan asimetris Iran yang lebih murah dan rendah-energi.

Puasa sebagai Sistem Pertahanan

Muhammad Rasulullah saw bersabda bahwa puasa adalah perisai. Jika teknologi adalah sistem kemampuan proses nilai tambah, maka puasa adalah sistem kemampuan proses nilai-tambah pertahanan.

Al-Qur’an dan hadits sering menyebut pertahanan sebagai shabr, yaitu kapasitas menahan dan pengendalian diri secara internal dalam menghadapi berbagai godaan nafsu syahwat perut dan kelamin. Rasulullah saw suatu ketika mengatakan bahwa manusia yang terkuat bukan yang paling berotot, tapi yang paling kuat menahan amarah. Syahwat perut dan kelamin yang tidak dikendalikan akan membuat manusia kesulitan bersabar untuk menahan amarahnya.

Pengendalian Konsumsi: Kunci Pertahanan

Pengendalian konsumsi makan adalah salah satu kunci dalam membangun pertahanan. Menahan lapar terbukti tidak saja menyehatkan, tapi juga meningkatkan kecerdasan. Manusia menjadi mampu membedakan antara kebutuhannya (needs) yang terbatas dengan keinginannya (wants) yang tak terbatas.

Kehilangan kemampuan ini adalah sumber keserakahan ribawy. Ini terbukti merusak diri sendiri, alam semesta, memperbudak manusia, dan menyebabkan konflik antar manusia dan bangsa. PTM marak seiring dengan hedonisme dan korupsi yang juga meningkat. Kesenjangan sosial meluas sehingga membahayakan basis pertahanan nasional kita.

Tiga Tahap Pembentukan Shabr

Pola kehidupan yang membahayakan pertahanan bangsa ini perlu dikoreksi dengan puasa, yaitu proses pembentukan shabr secara berjenjang. Shabr diproses melalui 3 tahap selama Ramadhan:

Tahap rahmat: Puasawan menyadari Allah swt yang mengajarkan Al-Qur’an adalah rahmat. Ramadhan adalah bulan syahru al-Qur’an di mana Al-Qur’an dibaca, ditadaburi, dan dipahami di malam hari.

Tahap maghfirah: Perubahan kesadaran dari kesadaran dzulumat pada kesadaran nur sebagai ampunan dari Allah swt melalui sholat. Sholat menurunkan ilmu dari kepala ke dalam qalbu.

Tahap itqun min an naar: Tahap pembebasan kehidupan dari pola lama bak api yang merusak kehidupan, menuju kehidupan yang damai, adil, dan terjaga.

Ketiga tahap itu adalah proses menyiapkan puasawan untuk berzakat, untuk hidup bersih dari riba dan fithry—bersih dari tumpukan lemak, kolesterol, dan gula yang melumpuhkan.

Iman, Shalat, dan Taqwa

Iman dibina dengan shalat, yaitu suatu teknologi transformasi ilmu (Al-Qur’an) sebagai bahan baku menjadi kesadaran atau penghayatan hidup. Dikombinasikan dengan pengendalian konsumsi dan emosi melalui puasa, maka sekolah Ramadhan akan mentransformasikan iman menjadi taqwa—yaitu kemampuan berbagi, menahan marah, memaafkan, dan berbuat kebajikan bagi publik.

Dalam soal konsumsi—tidak hanya makanan, tapi juga BBM, baja, dan beton—kendali para muttaqin tidak berhenti di halalan, tapi terus thayyiban: satu pola konsumsi sak madyo (rendah-energi) di mana konsumsi berhenti sebelum kenyang, mencapai produktivitas tinggi yang rendah-energi. Muttaqin adalah investor modal sosial pro-bono.

RCA Wonosalam, Sabtu 24 Ramadhan 1447 H

Penulis: Daniel Mohammad Rosyid, ITS-PTDI Jatim.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *