Pesan Pak AR: “Ojo Kenceng-Kenceng Jadi Pengurus Muhammadiyah”

TROBOS.CO | “Ojo kenceng-kenceng jadi Pengurus Muhammadiyah!” Pesan singkat penuh makna dari Kyai Haji Abdurrazaq Fakhruddin (Pak AR), Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1968-1990, itu masih relevan untuk direnungkan hingga kini, 35 tahun kemudian.

Pesan yang senada juga disampaikan Gus Mus baru-baru ini, “Jangan terlalu serius menjadi Kyai.” Dalam suasana yang kerap memanas karena perbedaan pendapat, wejangan dua ulama kharismatik ini mengingatkan pentingnya keseimbangan dan keikhlasan dalam berkhidmat.

banner 1280x716

Suatu ketika, Pak AR ditanya seorang pengurus yayasan, “Berapa gaji Pimpinan Muhammadiyah?” Dengan tenang, Pak AR menjawab, “Pimpinan tidak ada yang digaji, hanya karyawan yang digaji.”

Ketika sang penanya menyanggah bahwa hal itu tidak profesional karena menomorduakan Muhammadiyah, Pak AR justru melihatnya sebagai kekuatan. “Itu lebih baik karena semua pimpinan Muhammadiyah tidak ada yang berfikir mengurusi Muhammadiyah sebagai profesi. Semua berniat sebagai pengabdian.”

Beliau juga menanggapi wacana pemberian gaji dengan bijak, “Ketua PP mau digaji berapa? Apalagi kalau gaji itu dikaitkan masa kerja. Semua Pimpinan rata-rata sudah aktif sejak masa muda. Lalu siapa yang mau membayar gaji itu?”

Kekuatan Muhammadiyah justru terletak pada pengorbanan para kadernya. Mulai dari pimpinan ranting yang rela menjual tanah warisan untuk membangun surau, pimpinan cabang yang menggadaikan rumah untuk membiayai sekolah, hingga guru yang sabar menerima gaji kecil dan dibayar telat.

Di balik layar, ada juga jamaah yang “sembunyi-sembunyi” untuk shalat di masjid Muhammadiyah karena takut dibully majikan dan tetangganya. Semua dilakukan dengan ketulusan.

Jika bukan untuk mencari penghargaan dunia, sanjungan, atau popularitas, lalu apa yang diharap? Jawabannya terletak pada niat pengabdian yang tulus. Inilah yang menjadi energi abadi persyarikatan.

Pak AR menutup dengan nasihat cemerlang: “Jangan memilih orang yang mencalonkan diri. Jangan menolak ketika diberi amanah menjadi pimpinan Muhammadiyah.”

Pesan ini menjadi penegas bahwa kepemimpinan di Muhammadiyah adalah amanah yang diterima, bukan kursi yang dikejar. Filosofi “ojo kenceng-kenceng” mengajak setiap kader untuk selalu mengutamakan keikhlasan, menjaga keseimbangan, dan menjauhi ambisi duniawi dalam menggerakkan organisasi.

Sumber: nurbaniyusuf – Komunitas Padhang Makhsyar

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *