TROBOS.CO | Di manakah letak keunggulan? Pada keseragaman yang tunggal, atau justru pada keberagaman yang disatukan? Al-Qur’an dalam Surat Al-A’la mengisyaratkan jawabannya: “Maha suci Allah Yang Maha Tinggi, Yang menciptakan, lalu menyempurnakan. Yang menentukan kadar (ukuran) dan memberi petunjuk.”
Diciptakan dalam keragaman, disempurnakan melalui proses, dan diikat oleh bimbingan ilahi. Prinsip ini juga menjadi fondasi bangsa kita: Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi satu. Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma melengkapinya dengan pesan krusial: “Tan Hana Dharma Mangrwa” – tidak ada kebenaran atau pengabdian yang mendua.
Frasa “Tan Hana Dharma Mangrwa” inilah jiwa dari kesetiaan tunggal. Ia adalah antitesis dari kemunafikan dalam pengabdian kepada negara. Sejarah membuktikan, ketika kesetiaan ini retak dan semangat persatuan memudar—seperti saat nusantara terpecah belah sebelum Sumpah Pemuda—maka pertahanan menjadi lemah. Penjajah dengan mudah menguasai kita.
Sebaliknya, ketika Sumpah Pemuda menyatukan tekad, kolaborasi gotong royong antara laskar dan rakyat berhasil mengusir penjajah sekaliber Belanda dan Inggris. Persatuan dari keragaman itu menjadi kekuatan yang tak terbendung.
Namun, pascakemerdekaan, musuh berubah wajah. Tidak lagi seragam dan datang dari luar, tetapi menyelusup seperti “duri dalam daging”.
Musuh itu adalah kesetiaan yang mendua dan ambigu—“dharma mangruwa”. Ia adalah watak dari musuh dalam selimut: oknum serakah, oligarki, dan mafia yang berkolaborasi menyelubungi nafsu menguasai kekayaan negara.
Mereka mendominasi sumber daya alam dan ekonomi melalui monopoli, hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, serta kebijakan yang terlihat mulia namun berakhir dengan penderitaan rakyat. Alih fungsi hutan yang berujung banjir dan longsor adalah salah satu bukti nyata dari tata kelola salah urus akibat keserakahan ini.
“Sinyalemen adanya kekayaan negeri yang dinikmati segelintir orang adalah bukti sikap tidak patriotis,” tulis penulis. Kebijakan busuk yang diulang-ulang adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan.
Sayangnya, semangat patriotis dan nasionalis leluhur tidak sepenuhnya diwarisi generasi penerus. Perilaku hedonis dan “serakahnomics”—ekonomi yang digerakkan oleh keserakahan—melahirkan mafia, koruptor, dan manipulator baru. Mereka merugikan negara dan memiskinkan rakyat.
Lantas, bagaimana melawan musuh yang sistemik dan terselubung ini?
Jawabannya kembali pada konsep awal: persatuan dari keberagaman. Diperlukan usaha pemberantasan bersama dengan sistem gotong royong semesta. Gotong royong antarlembaga, antara pemerintah dan rakyat, antara media dan civil society, untuk membentuk kembali karakter kesetiaan tunggal kepada bangsa.
Dambaan kita adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Merdeka yang sesungguhnya adalah merdeka dari keserakahan dan ketidakadilan segelintir elit. Seperti gambaran negara sejahtera yang aman dan damai di bawah lindungan Yang Maha Pengampun.
Inilah panggilan zaman. Mengembalikan esensi Bhineka Tunggal Ika dan Tan Hana Dharma Mangrwa dari sekadar semboyan menjadi tindakan nyata. Kesetiaan tunggal kepada negara adalah benteng terakhir menghadapi oligarki dan musuh dalam selimut.
Ir. Widodo Djaelani, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.









