TROBOS.CO | Ancaman terhadap bangsa ini tidak hanya datang dari senjata, tetapi juga dari piring makan kita. Salah satu bentuk neokolonialisme modern adalah penggunaan makanan sebagai instrumen perang non-militer. Pengawet, pewarna, dan pemanis buatan yang merajalela telah memicu “tsunami kesehatan,” melahirkan generasi muda yang rentan diabetes, stroke, dan gagal ginjal.
Kerusakan tidak hanya terjadi di tubuh manusia, tetapi juga di tanah. Pupuk dan pestisida kimiawi telah meracuni lahan, merusak kesuburan, dan meninggalkan residu berbahaya dalam makanan kita. Konsep halaalan thayyiban pun direduksi hanya pada label “halal,” sementara aspek “thayyib” (baik, sehat, dan bermutu) diabaikan.
Menyediakan pangan yang sehat adalah amanah dengan dimensi ideologis hingga pertahanan negara. Namun, sektor strategis ini justru mengalami devolusi yang panjang. Kebijakan massal sejak Orde Baru mengarahkan pemuda menjadi buruh pabrik, meninggalkan lahan pertanian.
Pertanian didekati secara industrial, bergantung penuh pada pupuk kimia berbasis migas. Investasi asing menguasai pasar pupuk, pakan, dan benih GMO (Organisme Hasil Modifikasi Genetika), yang meminggirkan bahkan memusnahkan plasma nutfah lokal. Proses ini adalah bagian dari neokolonialisasi yang memiskinkan petani.
Dalam konteks ini, membangun kembali sektor pertanian bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan sebuah panggilan jihad. Islam menempatkan petani pada posisi yang sangat mulia. Iklim kapitalis ribawi telah mendistorsi nilai, seolah mobil lebih berharga daripada tanaman pangan, sebuah persepsi yang keliru dan merusak ekosistem.
Agar berkelanjutan dan menarik minat pemuda, pertanian harus dikelola secara terpadu dan organik dengan pendekatan system thinking. Sistem ini mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu siklus yang saling mendukung. Limbah ternak menjadi pupuk, kolam ikan menyediakan cadangan air dan nutrisi, sementara tanaman menyediakan pakan.
Pertanian terpadu organik akan menurunkan ketergantungan pada input kimia luar, menekan biaya, dan secara bertahap memperbaiki kualitas tanah yang telah terdegradasi. Inilah fondasi untuk mengubah konsep ketahanan pangan menjadi kedaulatan pangan yang sesungguhnya.
Revolusi ini dapat didukung oleh pertanian presisi dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk monitoring yang akurat. Yang tak kalah penting, pesantren-pesantren berbasis kawasan agro-maritim di pedesaan dan pesisir dapat menjadi garda terdepan dalam gerakan jihad pertanian ini, menyinergikan ilmu, amal, dan pengabdian untuk umat.
Pertanian terpadu organik bukan sekadar kembali ke masa lalu, tetapi lompatan ke masa depan. Ia menawarkan solusi konkret: menciptakan lapangan kerja luas bagi pemuda, memulihkan lingkungan, dan menyediakan pangan sehat sebagai benteng pertahanan bangsa.
Ini adalah jihad peradaban. Sebuah perjuangan untuk mengembalikan kedaulatan kita yang paling hakiki: kedaulatan atas pangan dan kesehatan, sebagai syarat mutlak kemandirian dan keberlanjutan bangsa.
Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid, Rosyid College AgroTren Wonosalam.




