Menjadi Manusia Pembelajar Sepanjang Hayat Menurut Epistemologi Qur’ani

TROBOS.CO | Di tengah dunia yang bergerak cepat—teknologi berubah, profesi bergeser, tantangan hidup semakin kompleks—satu kemampuan menjadi kunci untuk tetap bertumbuh: menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat. Bukan sekadar belajar demi ijazah atau sertifikat, tetapi belajar sebagai sikap hidup.

Demikian dituliskan Muhid, dari Pesantren Elkisi, Mojokerto, Jawa Timur. Menurutnya, Al-Qur’an sejak awal telah menanamkan prinsip ini. Dalam epistemologi Qur’ani, pengetahuan bukan sesuatu yang statis dan selesai, melainkan proses kesadaran yang terus berjalan selama manusia hidup.

banner 1142x1600

“Karena itu, manusia tidak pernah benar-benar ‘selesai belajar’, bahkan ketika ia telah mengajar orang lain,” tulisnya.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa memahami kebenaran bukan semata urusan kecerdasan, tetapi kesiapan batin. Seseorang bisa memiliki pengalaman panjang, jabatan tinggi, dan jam terbang luas, tetapi tetap berhenti bertumbuh ketika ia merasa sudah cukup tahu.

“Menjadi pembelajar sepanjang hayat berarti menjaga kerendahan hati intelektual: menyadari bahwa ilmu selalu lebih luas daripada apa yang telah kita kuasai,” tegas Muhid.

Inilah fondasi penting bagi siapa pun—pendidik, profesional, pelaku usaha, maupun pemimpin—agar tidak terjebak dalam zona nyaman dan arogansi intelektual.

Belajar tidak selalu terjadi di ruang kelas atau forum resmi. Justru pelajaran paling mahal sering datang dari ujian hidup: kegagalan, kritik, tekanan, dan perubahan yang tidak direncanakan.

Dalam perspektif Qur’ani, fase inilah yang menguji apakah ilmu benar-benar hidup dalam diri seseorang atau hanya berhenti sebagai pengetahuan teoritis. Manusia pembelajar tidak menolak ujian, tetapi mengolahnya menjadi hikmah.

“Ia tidak sibuk menyalahkan keadaan, melainkan bertanya: apa yang perlu diperbaiki dalam diri saya?” tulis Muhid. Sikap inilah yang membuat seseorang terus naik level, baik secara spiritual maupun profesional.

Tujuan akhir belajar bukan sekadar menambah informasi, tetapi mematangkan kesadaran. Pada tahap ini, belajar melahirkan kebijaksanaan: kemampuan bersikap tenang, mengambil keputusan secara seimbang, dan tetap berpegang pada nilai meski situasi berubah.

Dalam dunia kerja, pendidikan, maupun dakwah, orang seperti inilah yang dibutuhkan: bukan hanya yang paling pintar, tetapi yang paling siap belajar dan memperbaiki diri.

“Mereka tidak reaktif, tidak merasa paling benar, dan tidak berhenti bertumbuh,” jelasnya.

Menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat berarti menerima satu kenyataan penting: belajar tidak mengenal garis akhir. Ia tidak berhenti saat seseorang lulus, sukses, atau dikenal.

Selama manusia hidup, selama itu pula ia berada dalam proses belajar—dari pengalaman, dari orang lain, dan dari dirinya sendiri. Dalam perspektif ini, siapa pun—dai, kiai, guru, profesional, atau pelaku usaha—bukan hanya pengajar, tetapi murid seumur hidup di hadapan kebenaran.

“Justru kesadaran inilah yang membuat seseorang tetap relevan, rendah hati, dan terus bertumbuh,” pungkas Muhid.

Dunia memang membutuhkan manusia cerdas, tetapi lebih dari itu, dunia membutuhkan manusia pembelajar—mereka yang tidak berhenti belajar meski telah mencapai banyak hal. Karena pada akhirnya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita tahu, tetapi oleh sejauh mana kita terus mau belajar dan berubah menjadi lebih baik.

Muhid, Pesantren Elkisi, Mojokerto, Jawa Timur.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *