TROBOS.CO | Hidup dengan mengumbar nafsu, hanya bersenang-senang, tidak akan menghasilkan karya. Kesembronoan dan lalai akan berakhir dengan kesengsaraan.
QS. At-Takatsur mengingatkan: “Kamu telah dilalaikan oleh bermegah-megahan, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).”
Ayat ini menegur sikap hidup yang mengejar nafsu duniawi secara berlebihan hingga melupakan tujuan utama: amal saleh dan persiapan untuk hidup di akhirat. Bukan berarti menolak kesenangan dunia, tetapi mengingatkan agar tidak terlena hingga lupa diri.
Raja Mangkunegoro IV dalam karya abadinya Wedhatama menyampaikan ajaran luhur yang tidak dimaksudkan untuk pamer, melainkan sebagai tuntunan hidup.
Inti ajarannya adalah pengembangan rasa atau peningkatan kesadaran diri. Apabila hal itu tak terjadi, maka seseorang akan dikatakan bagai “sepuh sepa tuwa tuwas”—artinya, walaupun sampai usia lanjut, nilai dirinya hampa. Tanpa sari pati, hanya tinggal ampas belaka.
Jika kualitas diri hampa, biasanya orang tidak arif bijaksana. Pikirannya tidak matang, alergi kritik, dan tidak pernah menyadari kebodohannya sendiri. Pembicaraannya tak terarah, selalu mengejar pengakuan dan pujian. Dalam perjalanan hidupnya yang tak punya nilai serta berkualitas, ia masih saja menyombongkan diri.
Sebaliknya, bagi yang mengalami peningkatan kesadaran, ia akan bijak. Ucapannya terasa sungguh menyenangkan, enak didengar, berbobot, dan berdasarkan pertimbangan matang dengan kecerdasan atas analisis data dan fakta. Ia menjauhi kebohongan dan kemunafikan.
Bagi si bijak, ia dengan jujur dan lapang dada menerima kritik. Ia menyadari kedunguan si bodoh, dan merasa puas bisa membahagiakan orang lain. Apa yang telah dikerjakannya semata-mata untuk kemaslahatan masyarakat.
Dalam tradisi spiritual dan pengembangan diri, dikenal tiga tingkat kesadaran:
- Kesadaran fisik: kesadaran terhadap tubuh dan kebutuhan biologis.
- Kesadaran jiwa: kesadaran emosi, kemampuan mengendalikan diri, berpikir jernih, dan introspeksi.
- Kesadaran ruh: hubungan dengan Tuhan, rasa ikhlas, menjaga niat, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.
Untuk meningkatkan kesadaran diri, beberapa langkah dapat dilakukan:
- Melatih refleksi diri, mengenali kedewasaan emosi, terbuka pada kritik, dan melatih kesadaran penuh (mindfulness)—waspada tidak lengah sedikit pun.
- Terus bersemangat belajar dan memperbaiki diri terhadap nilai-nilai kehidupan.
- Secara rutin melakukan evaluasi terhadap perkembangan kesadaran diri.
Pesan yang disampaikan dengan inti pembelajaran ini adalah pengembangan kesadaran yang tidak terlalu terikat kepada kemewahan dan kesenangan hidup. Manfaatkan masa muda untuk membangun diri, menjadi pribadi saleh dan unggul, berbudi luhur, serta bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan sampai kita menjadi “sepuh sepa tuwa tuwas”—tua namun hampa, panjang umur tanpa makna.
Ir. Widodo Djaelani, alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.









