TROBOS.CO – Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), dunia pendidikan dituntut untuk berevolusi. Pertanyaannya, bagaimana membawa pendidikan ke tingkat yang lebih canggih, praktis, dan menyenangkan? Jawabannya terletak pada tiga pilar utama: pembelajaran personal, berbasis pengalaman, dan berbasis penguasaan.
Pembelajaran personal adalah pendekatan yang menyesuaikan program, pengalaman, dan strategi belajar berdasarkan preferensi, minat, kekuatan, kelemahan, serta latar belakang budaya masing-masing siswa.
Hasilnya, setiap individu mendapatkan pengalaman pendidikan yang paling cocok, memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Laporan penelitian Bill & Melinda Gates Foundation membuktikan bahwa siswa di sekolah dengan strategi ini menunjukkan kemajuan akademik yang lebih signifikan.
Neurologi juga mendukung hal ini. Pengalaman yang dipersonalisasi terbukti mempengaruhi cara otak menerima informasi secara positif, memberikan wawasan tentang bagaimana pembelajaran bekerja pada tingkat sinapsis.
Implementasinya membutuhkan kurikulum yang cair, fleksibel, dan non-linear. Guru harus memiliki beragam keahlian, mampu menangani siswa secara individual, dan komunikatif. Bahkan, siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih guru yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar mereka.
Konsep ini sederhana: untuk mata pelajaran kumulatif seperti Matematika, siswa harus benar-benar menguasai konsep dasar sebelum melangkah ke topik berikutnya.
Yang ditekankan di sini adalah kemajuan, bukan sekadar nilai sempurna. Seorang siswa tidak harus mendapat nilai 100 untuk dianggap brilian. Nilai C atau 60 pun dapat diterima, asalkan menunjukkan pemahaman yang tulus pada bagian yang dikuasainya dan ada progres dari waktu ke waktu.
Mengapa? Karena nilai ujian seringkali bukan metrik yang andal untuk mengukur penguasaan. Ada perbedaan mendasar antara siswa yang memahami 60% materi dengan sungguh-sungguh dan siswa yang mendapat nilai 100 sekadar untuk lulus ujian tanpa minat pada materinya. Penguasaan yang sejati dapat terus dibangun dari fondasi yang kuat.
Filosofi “learning by doing” adalah inti dari pilar ini. Belajar melalui pengalaman langsung jauh lebih efektif daripada sekadar mendengarkan ceramah secara pasif.
Pengalaman melibatkan banyak indera, membangun keterampilan sosial-emosional, menciptakan konteks untuk memori, melatih pemikiran kritis, dan langsung relevan dengan aplikasi di kehidupan nyata. Peran guru di sini adalah memberikan tantangan dan membimbing siswa untuk merefleksikan pengalaman mereka.
Meski tantangannya besar—baik dari segi biaya maupun kualitas guru—arah pendidikan masa depan harus mengacu pada ketiga pilar ini. Terutama di era AI yang menuntut generasi yang lebih personal, terampil di bidang spesifik, dan kaya akan pengalaman nyata.
Oleh: Teguh Wahyu Utomo, Penerjemah dan Pemerhati Pendidikan, tinggal di Surabaya.






