TROBOS.CO | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah merupakan langkah ambisius untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Namun, di balik semangat tersebut, berbagai tantangan muncul di lapangan. Daniel Mohammad Rosyid dari Yayasan PTDI Jawa Timur-RCA Wonosalam mengulas perbandingan antara tantangan di Indonesia dan praktik sukses dari berbagai negara, serta memberikan rekomendasi penguatan program.
Tantangan MBG di Indonesia vs Praktik Global
1. Tata Kelola & Pengawasan
-
Indonesia: Banyak insiden keracunan dan ketidaksesuaian standar. BGN bahkan menghentikan sementara 1.512 SPPG di Jawa untuk evaluasi ketat.
-
Brasil: Program PNAE memiliki sistem pengawasan publik (public oversight) yang melibatkan masyarakat dan pemantauan terintegrasi, bukan hanya dari pemerintah.
2. Pendanaan & Anggaran
-
Indonesia: Alokasi dana Rp15.000 per anak per hari dinilai sangat ketat. Berdasarkan analisis, biaya bahan baku saja bisa mencapai Rp6.000–Rp6.500, belum termasuk biaya produksi dan distribusi, sehingga berisiko menurunkan kualitas.
-
Finlandia: Menjadikan makan siang sekolah gratis sebagai hak dasar yang didanai penuh oleh negara dan daerah sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar program bantuan.
-
Brasil: Baru saja menaikkan anggaran PNAE setelah tiga tahun dan terus mengadvokasi penyesuaian tahunan otomatis terhadap inflasi pangan untuk menjaga daya beli.
3. Penerimaan & Preferensi Pangan
-
Indonesia: Menu sering tidak sesuai selera karena kebiasaan makan generasi muda yang sudah terlanjur buruk, yaitu rendah serat dan tinggi makanan olahan (ultra-processed food).
-
Jepang: Menggunakan pendekatan Shokuiku (pendidikan pangan). Makan siang adalah “pelajaran” untuk membentuk kebiasaan makan sehat, memperkenalkan rasa syukur, dan menghargai makanan serta budaya lokal.
4. Dampak Ekonomi & Pertanian
-
Indonesia: Potensi untuk menggerakkan ekonomi lokal belum optimal. Pengadaan justru banyak dikuasai vendor besar, bukan pelaku UMKM dan petani lokal.
-
Brasil: Mewajibkan minimal 45% dari dana program digunakan untuk membeli bahan pangan langsung dari petani keluarga lokal. Ini menciptakan pasar yang stabil dan meningkatkan gizi serta ekonomi desa.
-
Uni Eropa: Proyek SchoolFood4Change menekankan “pengadaan pangan berkelanjutan” yang menghubungkan sekolah dengan petani lokal dan produsen skala kecil.
5. Edukasi Gizi & Pola Makan
-
Indonesia: Literasi gizi masyarakat masih rendah dan program belum optimal sebagai media edukasi perubahan perilaku.
-
Jepang: Menjadikan Shokuiku sebagai bagian dari kurikulum resmi. Ahli gizi terdaftar menjelaskan asal-usul dan nilai gizi makanan saat siswa makan.
-
Uni Eropa: Pendekatan Whole School Food Approach melibatkan seluruh ekosistem sekolah (guru, siswa, kantin, orang tua, petani) dalam edukasi pangan.
Keberhasilan program makan siang sekolah tidak hanya diukur dari makanan yang sampai ke piring anak, tetapi juga dari dampak sistemiknya. Berikut pelajaran yang bisa dipetik:
1. Revolusi Anggaran dan Pendanaan
Jika ingin menu berkualitas dan aman, pendanaan harus realistis dan berkelanjutan. Finlandia menunjukkan bahwa program ini adalah investasi sumber daya manusia, bukan sekadar pengeluaran. Sementara itu, Brasil mengajarkan pentingnya mekanisme penyesuaian anggaran rutin terhadap inflasi agar nilai manfaatnya tidak tergerus waktu.
2. Revolusi Perilaku (Edukasi adalah Kunci)
Mengubah selera makan yang “buruk” tidak bisa instan. Di sinilah Jepang dengan Shokuiku-nya menjadi contoh sempurna. Makan siang sekolah adalah kurikulum hidup. Anak-anak belajar tentang:
-
Gizi: Memahami komposisi makanan sehat.
-
Karakter: Rasa syukur (Itadakimasu), tanggung jawab (melayani teman), dan kerja sama.
-
Budaya dan Pertanian: Menghargai makanan lokal dan proses produksinya.
Program seperti SchoolFood4Change di Eropa juga menekankan pendekatan holistik ini.
3. Revolusi Ekonomi Pertanian
MBG bisa menjadi mesin penggerak ekonomi desa. Brasil membuktikan bahwa dengan kebijakan yang tepat (seperti kuota pembelian dari petani lokal), program ini mampu:
-
Menjamin pasokan pangan segar dan bergizi untuk anak-anak.
-
Memberikan penghasilan tetap bagi petani kecil.
-
Mendorong keberagaman pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada pangan impor atau olahan pabrik.
Tantangan di Indonesia di mana pengadaan dikuasai vendor besar menunjukkan perlunya insentif dan penguatan kapasitas petani lokal serta regulasi yang lebih kuat, seperti yang juga ditemukan dalam evaluasi program WFP di berbagai negara.
4. Revolusi Pengawasan dan Kepercayaan
Insiden keracunan adalah pukulan telak bagi kepercayaan publik. Sistem pengawasan partisipatif ala Brasil, yang melibatkan orang tua dan masyarakat, dapat menjadi solusi ampuh untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas, sekaligus membangun kembali kepercayaan.
Berdasarkan pengalaman global, berikut beberapa rekomendasi untuk memperkuat MBG:
1. Jadikan Sekolah sebagai Laboratorium Perubahan
Adopsi model Jepang atau SchoolFood4Change. Integrasikan program MBG dengan kurikulum. Ajak siswa terlibat dalam proses penyajian, kunjungan ke petani, atau berkebun di sekolah.
2. Sambungkan Petani Lokal ke Sekolah
Terapkan kebijakan seperti Brasil. Alokasikan persentase anggaran MBG yang signifikan untuk membeli bahan pangan dari petani dan UMKM lokal. Ini membutuhkan pemetaan petani dan pendampingan.
3. Bangun Sistem Pengawasan Terpadu
Libatkan orang tua murid, Puskesmas, dan dinas terkait dalam pengawasan dapur dan distribusi makanan. Transparansi data menu dan hasil uji laboratorium juga krusial untuk menjaga kepercayaan.
4. Tinjau Ulang Skema Anggaran secara Berkala
Belajar dari Brasil, penting untuk memiliki mekanisme peninjauan biaya per porsi secara berkala yang disesuaikan dengan inflasi pangan dan standar gizi.
Program MBG adalah sebuah awal yang ambisius. Tantangan di awal adalah proses belajar yang wajar. Dengan kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi, serta dengan berkaca pada praktik baik dunia, MBG memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi kokoh bagi generasi emas Indonesia.
Daniel Mohammad Rosyid, Yayasan PTDI Jawa Timur – RCA Wonosalam.
Rosyid College AgroTren Wonosalam, Jombang. Senin 16/03/2026









