Kisah Unik Solomon Islands: Menebang Pohon dengan Kata-Kata Kasar

TROBOS.CO | Di Kepulauan Solomon, sebuah negara kepulauan di Pasifik Selatan, terdapat sebuah tradisi unik yang terdengar tak masuk akal di telinga modern. Konon, jika penduduk setempat menghadapi pohon yang terlalu besar dan kuat untuk ditebang dengan kapak, mereka memiliki cara lain: menumbangkannya dengan kata-kata cacian dan makian.

Seorang penebang yang diyakini memiliki power khusus akan memanjat ke puncak pohon, lalu mulai meneriakkan kata-kata kasar dan makian ke arah pohon tersebut. Ritual ini dilakukan berulang-ulang, kadang hingga 30 hari berturut-turut. Keyakinannya, hujan cacian itu akan membuat pohon “merana”, “menderita”, dan akhirnya mati, sehingga mudah untuk dirobohkan.

banner 1280x716

Mendengar cerita ini, reaksi pertama kita mungkin tertawa sinis. “Betapa naifnya orang primitif itu!” pikir kita. Di era teknologi dan ilmu pengetahuan, mana mungkin sebuah pohon tumbang hanya karena dimaki-maki?

Namun, sebelum kita cepat menghakimi, mari sejenak bercermin. Bukankah dalam keseharian, tanpa kita sadari, kita pun kerap melakukan hal yang serupa? Bedanya, sasaran “pohon” kita bukanlah kayu, melainkan perasaan dan hati orang lain—bahkan diri sendiri.

Berapa kali dalam sehari kita mengeluarkan kata-kata kasar, meski hanya dalam hati atau dengan nada kesal?

  • Saat diserobot di jalan, bukankah umpatan kerap terlontar?
  • Saat mengantri lama, bukankah gerutu dan keluh kesah mulai terdengar?
  • Saat ATM macet atau gawai error, bukankah kita mudah menggedor atau mengumpat?
  • Saat lelah atau stres, bukankah suara kita mudah meninggi kepada anak, pasangan, atau rekan kerja?
  • Bahkan, di dunia maya, betapa mudah kita menuliskan komentar pedas atau cacian di media sosial terhadap hal yang tidak kita sukai.

Orang-orang Solomon mungkin keliru tentang efek cacian pada pohon. Namun, mereka mungkin benar tentang satu hal: kata-kata memiliki kekuatan. Bukan kekuatan mistis untuk merobohkan pohon, tetapi kekuatan yang sangat nyata untuk merobohkan semangat, menyakiti perasaan, dan merusak hubungan.

Jika kita bercermin pada metafora mereka, betapa banyak “pohon” dalam hidup kita—hubungan baik, kedamaian hati, lingkungan kerja yang harmonis—yang mungkin mulai “layu” karena terus-menerus “dihujani” oleh kata-kata tajam dan emosi negatif kita sendiri.

Kisah dari Kepulauan Solomon ini adalah sebuah allegori yang kuat. Ia mengajak kita untuk lebih sadar dan bertanggung jawab atas setiap ucapan yang keluar dari mulut kita atau tertulis di ujung jari kita.

Tongkat dan batu mungkin bisa melukai tubuh, tetapi kata-kata bisa menghancurkan hati. Sebuah hubungan persahabatan yang dibangun bertahun-tahun bisa retak oleh satu kalimat pedas. Rasa percaya diri seseorang bisa runtuh karena olokan yang terus-menerus.

Jadi, lain kali sebelum kita hendak melontarkan kata-kata kasar—entah karena kesal, lelah, atau kecewa—ingatlah kisah penebang pohon dari Kepulauan Solomon. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah kata-kata ini akan menumbuhkan atau justru menebang?”

Mari gunakan kekuatan kata-kata kita bukan untuk “membunuh” pohon, tetapi untuk menyuburkan taman hubungan, memupuk pengertian, dan membangun kedamaian. Karena pada akhirnya, kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh kualitas kata-kata yang kita ucapkan dan kita dengar.

Oleh: Teguh Wahyu Utomo, tinggal di Surabaya

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *