TROBOS.CO | Menjelang malam pergantian tahun, suasana gegap gempita telah terasa. Kota-kota akan berpendar cahaya, penuh dengan pesta musik, terompet, dan kembang api. Namun, di balik euforia itu, Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab, mengajak masyarakat untuk melihat pergantian tahun sebagai momen kontemplasi dan tanggung jawab kebangsaan, bukan sekadar perayaan hura-hura.
“Fenomena ini adalah mosaik sosial dan laboratorium terbuka untuk membaca karakter bangsa: bagaimana kita merayakan waktu dan memaknai hidup,” tulis Ulul dalam refleksinya yang dirilis Rabu (31/12/2025).
Ulul mengamati bahwa malam tahun baru adalah ‘hari raya ekonomi’ yang menggerakkan sektor kuliner, pariwisata, hingga UMKM. “Omzet pelaku UMKM di kota besar bisa naik 300 persen dalam satu malam,” catatnya.
Namun, ia mengingatkan agar kemeriahan ini tidak melupakan keadilan. “Apakah pesta di kota-kota besar juga menghadirkan rezeki bagi warga desa yang rumahnya gelap tanpa lampu kembang api? Euforia ekonomi mestinya tidak boleh melupakan keadilan distribusi,” tegasnya.
Dari sisi psikologi, keramaian tahun baru memenuhi kebutuhan manusia untuk merasa terhubung dan melepas beban. “Tetapi ketika pesta menjadi pelarian dari refleksi, maka ia berubah menjadi dangkal. Euforia tanpa makna hanyalah kebisingan,” kritik Ulul.
Di sisi lain, di banyak masjid dan pesantren, suara tilawah dan doa menggema. “Suasana ini adalah oase di tengah hiruk pikuk—sebuah episode perayaan yang tidak membisingkan telinga, melainkan melembutkan hati,” ujarnya.
Refleksi ini menjadi semakin relevan mengingat tahun 2025 diwarnai berbagai bencana alam. Ulul menyerukan etika moral dalam merayakan.
“Bukan berarti perayaan harus dihentikan total. Tetapi ada etika moral: Kurangi pesta yang berlebihan dan mubazir. Sisihkan sebagian anggaran kembang api untuk bantuan penyintas bencana,” ajaknya.
Ia memberikan gambaran nyata: “Bayangkan jika 1-2% saja dari belanja kembang api nasional dikonversi menjadi paket logistik bencana. Berapa ribu tenda yang bisa didirikan? Tahun baru akan lebih bermakna jika kita merayakannya bersama mereka yang sedang diuji.”
Ulul menegaskan, tahun baru menjadi sakral bukan karena hitungan detik, melainkan karena niat untuk memperbaiki diri dan negeri.
“Merayakan boleh, bergembira silakan, tetapi jangan lupa bersyukur. Jangan sampai suara terompet menenggelamkan suara nurani. Jangan sampai cahaya kembang api membuat kita lupa bahwa di beberapa sudut negeri masih ada yang gelap,” pesannya.
“Selamat menyambut tahun baru Indonesia. Semoga kita menjadi lebih baik dari kemarin, lebih arif dari hari ini, dan lebih kuat menghadapi hari esok,” tutup Ulul Albab.
Ulul Albab (Ketua ICMI Jawa Timur)









