TROBOS.CO | SURABAYA – Dalam seri ketiga kajian akhir tahunnya, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur mengalihkan sorotan dari pembangunan fisik dan ekonomi menuju pembangunan manusia. Kajian ini fokus pada tiga pilar utama masa depan: pendidikan, kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Meski Jawa Timur memiliki keunggulan skala—jumlah penduduk besar, jaringan pendidikan luas, dan fasilitas kesehatan tersebar—tantangan klasiknya tetap sama: mutu layanan belum selalu seiring dengan besarnya sistem.
Secara kuantitatif, capaian pendidikan Jawa Timur patut diapresiasi. Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan dasar dan menengah tinggi, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) mendekati 9 tahun, dan Harapan Lama Sekolah (HLS) sekitar 13 tahun.
Namun, indikator mutu memberikan catatan kritis. Hasil asesmen kompetensi (AKM) dan literasi-numerasi masih menunjukkan ketimpangan kualitas yang signifikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan/terpencil. Artinya, anak-anak di daerah dengan basis ekonomi agraris dan kepulauan seringkali tertinggal dalam kompetensi dasar, meski mereka bersekolah. Agenda pemerataan kini harus bergeser dari sekadar akses menuju pemerataan kualitas.
Di sektor kesehatan, Usia Harapan Hidup (UHH) Jawa Timur sejalan dengan nasional di kisaran 74 tahun. Cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga tinggi, menunjukkan akses finansial yang semakin inklusif.
Tantangan utama saat ini bukan lagi ketersediaan layanan, tetapi kualitas dan efektivitasnya. Isu seperti distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, kualitas layanan primer di puskesmas, dan peningkatan beban penyakit tidak menular membutuhkan penyesuaian sistemik. Penurunan angka stunting juga perlu dipercepat dan diratakan.
Kombinasi capaian pendidikan dan kesehatan tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur yang konsisten naik, berada di kisaran 74–75. Ini menandakan fondasi SDM yang membaik.
Namun, isu krusial terletak pada kesenjangan antara dunia pendidikan dan pasar kerja. Banyak lulusan pendidikan menengah dan vokasi yang belum terserap ke pekerjaan dengan produktivitas tinggi. Tanpa penyelarasan kurikulum, pelatihan vokasi yang adaptif, dan sertifikasi kompetensi yang relevan, peningkatan IPM berisiko tidak berkontribusi langsung pada lonjakan produktivitas ekonomi daerah.
ICMI Jawa Timur menilai kinerja sektor pendidikan, kesehatan, dan kualitas SDM Jatim tahun 2025 berada pada kategori “PRESTASI SEDANG”.
“Predikat ini mengakui keberhasilan dalam perluasan layanan dan perbaikan indikator dasar, sekaligus menegaskan kebutuhan reformasi lanjutan pada kualitas, kesetaraan wilayah, dan keterkaitan dengan produktivitas ekonomi,” jelas Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ICMI Jatim memberikan empat rekomendasi strategis:
-
Pemerataan Mutu Pendidikan: Fokus pada peningkatan kualitas guru, manajemen sekolah, dan pembelajaran digital yang adaptif di daerah tertinggal.
-
Penguatan Layanan Kesehatan Primer: Perkuat layanan promotif-preventif di puskesmas untuk menekan beban penyakit dan ketimpangan layanan.
-
Link and Match Pendidikan-Industri: Tingkatkan vokasi adaptif, sertifikasi kompetensi, dan kemitraan strategis dengan dunia usaha/industri.
-
Targetkan Lompatan IPM Berbasis Kualitas: Arahkan kebijakan untuk meningkatkan kualitas hasil (outcome), bukan sekadar memperluas cakupan (output).
Pendidikan dan kesehatan tidak cukup dinilai dari luasnya jaringan. Ukuran sejatinya adalah seberapa jauh keduanya mampu mengangkat martabat kerja dan kualitas hidup warga.
Tahun 2025 membuktikan Jawa Timur telah berhasil membangun fondasi yang kokoh dalam hal akses. Tantangan ke depan adalah memastikan fondasi itu mampu menopang rumah yang kokoh, berkeadilan, dan produktif bagi seluruh masyarakat Jawa Timur.
Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur









