TROBOS.CO | Pembangunan bukan sekadar pembangunan fisik. Menurut Daniel Mohammad Rosyid dari Rosyid College of Arts, pembangunan adalah sebuah platform perluasan kemerdekaan, sebagaimana tesis peraih Nobel Amartya Sen. Kemerdekaan ini mencakup kebebasan dari kebodohan dan kelaparan.
Dalam esainya yang ditulis dari Trawas, Sabtu (7/2/2026), Rosyid menegaskan bahwa memberi makan bergizi tidak hanya membebaskan dari lapar, tetapi juga dari malnutrisi yang menghambat kapasitas warga muda untuk hidup sehat dan produktif.
“Untuk negeri kepulauan seluas Eropa dengan potensi agro-maritim yang melimpah, pembangunan perlu menjadikan desa sebagai basis,” tulisnya. Menurutnya, memastikan anak SD di Ngada, NTT, mendapat nutrisi dan belajar yang baik, adalah urusan kepala desa, tokoh agama, dan masyarakat setempat—bukan Jakarta.
Pendidikan, bagi Rosyid, adalah upaya memperluas kesempatan belajar merdeka—bukan sekadar menyiapkan tenaga kerja terampil untuk investor asing. Merujuk Ki Hadjar Dewantara, pendidikan harus ditopang tiga pilar: keluarga, masyarakat, dan sekolah.
“Pendidikan warga muda tidak bisa dan tidak boleh hanya ditopang oleh sekolah,” tegasnya. Ia mengutip adagium, it takes a village to raise a child. Pendidikan untuk semua hanya mungkin dicapai oleh semua, sehingga tak ada anak yang tertinggal (no child left behind).
Perubahan yang dicita-citakan para pendiri bangsa, menurut Rosyid, ditujukan untuk empat hal dalam Pembukaan UUD 1945: melindungi bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Untuk mencapainya, dua barang publik vital harus disediakan bersama-sama: kesempatan belajar yang luas dan makanan sehat bergizi. Ini adalah tugas kolektif yang harus dikerjakan secara gotong royong.
Rosyid memetakan peran setiap pihak dalam ekosistem belajar desa:
- Keluarga bertanggung jawab menyediakan sarapan dan makan malam bergizi serta menjadi teladan akhlak.
- Masjid/Gereja membantu memberi teladan hidup bertetangga dalam masyarakat majemuk.
- Sekolah menyediakan perpustakaan, internet, sarana olahraga, bengkel, dan studio sebagai ruang publik. Guru berperan sebagai sosiopreneur yang membangun literasi dan keterampilan sesuai potensi lokal.
- Kampus menyediakan kepakaran dan hasil riset yang relevan secara spasial.
- Masyarakat Desa berkepentingan menjaga kesehatan ekosistem agro-maritim di sekitarnya.
Dalam konteks ekonomi, Rosyid menekankan bahwa hilirisasi terpenting adalah hilirisasi sektor agro-maritim, bukan tambang. Ini untuk membangun ketahanan lalu kedaulatan pangan dan air.
“Manusia tidak bisa hidup tanpa hutan, tapi bisa hidup tanpa mobil,” tulisnya, mengingatkan pelajaran dari bencana hidrometeorologi beruntun yang kerap dipicu kerusakan lingkungan akibat pertambangan.
Rosyid meyakini bahwa Indonesia Emas 2045 akan bertumpu pada desa yang berdaya sebagai basis kedaulatan pangan, air, dan energi. Untuk itu, diperlukan sebuah jejaring belajar desa yang melibatkan semua pemangku kepentingan.
Dalam jejaring ini, Jakarta hanya berfungsi sebagai sindikator yang mengorkestrasi prakarsa inovatif daerah. “Proses belajar tidak boleh dibatasi formalitas birokratik, tapi harus relevan dan berdampak pada peningkatan kualitas kehidupan lokal secara organik,” pungkasnya.
Daniel Mohammad Rosyid, Rosyid College of Arts, Trawas.









