Isra’ Mi’raj & Mukjizat: Epistemologi Qur’ani yang Melampaui Batas Akal

TROBOS.CO | Upaya menjelaskan Isra’ Mi’raj melalui konsep fisika modern seperti wormhole atau pelipatan ruang-waktu menarik, namun perlu dibaca secara proporsional. Pendekatan itu menunjukkan sains mulai menyentuh batasnya. Dalam epistemologi Qur’ani, penjelasan semacam itu bukan legitimasi kebenaran wahyu, melainkan sekadar analogi intelektual yang tentatif.

Di sinilah perintah “Iqra’ bismi rabbik” menemukan makna epistemologisnya yang mendasar. Islam tidak memerintahkan membaca realitas secara liar, memaksa akal bekerja di luar kapasitasnya. Bismi rabbik adalah penanda bahwa aktivitas berpikir harus berada dalam bingkai tauhid. Akal diberi ruang bekerja, tetapi tidak diberi mandat untuk menghakimi seluruh realitas.

banner 1142x1600

Dalam perspektif wahyu, Isra’ Mi’raj bukan peristiwa tunggal. Ia berada dalam satu lanskap mukjizat yang melampaui mekanisme sebab-akibat biasa, namun tetap sah sebagai pengetahuan karena bersumber dari wahyu.

Al-Qur’an menghadirkan beragam mukjizat yang secara sadar melampaui ekspektasi rasional normal: api yang tidak membakar Nabi Ibrahim, laut terbelah untuk Nabi Musa, hingga kelahiran Nabi ‘Isa tanpa ayah. Semua ini bukan irasional, melainkan supra-rasional—berada di atas jangkauan akal biasa, tanpa bertentangan dengan tauhid.

Contoh paling gamblang tentang pengetahuan di luar kerja akal fisik adalah kisah pemindahan singgasana Ratu Bilqis pada zaman Nabi Sulaiman. Allah berfirman: “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab: ‘Aku akan membawanya kepadamu sebelum matamu berkedip.’” (QS. an-Naml: 40)

Ayat ini sangat penting secara epistemologis:

  1. Pelakunya bukan nabi, melainkan seorang alim yang “memiliki ilmu dari Kitab”.
  2. Peristiwanya melampaui hukum fisika normal: pemindahan objek besar lintas ruang dalam sekejap.
  3. Al-Qur’an tidak menjelaskan mekanismenya, dan tidak merasa perlu menjelaskannya.

Ini adalah pelajaran besar: tidak semua peristiwa benar harus dapat dijelaskan secara teknis. Yang ditekankan Al-Qur’an bukan bagaimana caranya, tetapi dari mana sumber pengetahuannya‘ilmun mina al-kitāb.

Dalam epistemologi Qur’ani, akal sehat bukanlah akal yang menolak segala yang melampaui dirinya, melainkan akal yang menyadari batasnya. Tauhid justru membentuk kerangka kewarasan yang lebih utuh: Allah adalah Pelaku Mutlak, hukum alam (sunnatullah) tunduk pada kehendak-Nya.

Maka, mukjizat bukan pelanggaran hukum alam, melainkan penangguhannya oleh Pemilik hukum itu sendiri. Menolak mukjizat atas nama rasionalitas justru menunjukkan ketidakkonsistenan dalam tauhid.

Dengan bingkai ini, Isra’ Mi’raj tidak perlu “diselamatkan” oleh fisika modern. Upaya ilmiah boleh hadir sebagai taqrīb al-ma‘nā (pendekatan makna), bukan sebagai hakim kebenaran.

Al-Qur’an sendiri membuka kisah ini dengan deklarasi epistemik: “Subḥāna alladzī asrā bi ‘abdihī…” Kata Subḥāna menegaskan bahwa peristiwa ini berada di wilayah kesucian kekuasaan Allah—bukan di wilayah eksperimen manusia.

Klimaks Mi’raj pun bukan tentang kosmologi, melainkan shalat: ibadah yang sepenuhnya dalam kapasitas manusia, namun menghubungkannya secara langsung dengan langit.

Dalam epistemologi Qur’ani, mukjizat adalah pengetahuan sah yang bersumber dari wahyu, bukan dari spekulasi akal. Iqra’ bismi rabbik membebaskan manusia dari pemaksaan penjelasan total atas segala hal, sekaligus menyelamatkan akal dari kesombongan epistemik.

Isra’ Mi’raj, pemindahan singgasana Bilqis, dan seluruh mukjizat lainnya berdiri kokoh bukan karena lolos uji fisika, tetapi karena ditopang oleh wahyu yang diturunkan melalui Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran tertinggi.

Cak Muhid, Pesantren Elkisi, Mojokerto, Jawa Timur.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *