Ironi Dari Bangsa yang Gemar Tampak Berhasil

TROBOS.CO | Saya membaca kisah Khairun Nisa dengan perasaan campur aduk. Ada kaget. Ada sedih. Ada juga rasa tidak tega. Bahkan tanpa terasa menitikan air mata. Benar-benar trenyuh. Seorang perempuan muda, mengenakan seragam pramugari, mondar-mandir di bandara. Lalu ikut naik pesawat untuk terbang. Bukan untuk bekerja. Tetapi untuk satu tujuan sederhana sekaligus berat: yaitu agar terlihat berhasil di mata orang tua dan lingkungannya.

Ia akhirnya ketahuan. Viral. Diadili oleh warganet. Dinyinyiri. Ditertawakan. Padahal, jika kita mau jujur, yang dilakukan Khairun itu sangat Indonesia. Bukan karena ia benar, tapi karena caranya bertahan hidup sangat akrab dengan keseharian kita.

banner 1142x1600

Khairun bukan sekadar “pramugari gadungan”. Bisa jadi Ia adalah potret telanjang tentang betapa mahalnya harga sebuah penampilan sukses di negeri ini.

Bagi sebagian orang, seragam hanyalah pakaian kerja. Tapi bagi anak muda seperti Khairun, seragam adalah simbol: yaitu bukti bahwa ia “jadi orang”, bahwa orang tuanya tidak salah membesarkan anak, bahwa ia tidak kalah oleh tetangga, saudara, atau teman sebaya.

Dalam psikologi perilaku, ini disebut tekanan ekspektasi sosial. Ketika kegagalan tidak diberi ruang, maka kepura-puraan sering menjadi jalan pintas, jalan darurat. Bukan karena “niat” ingin menipu, tapi karena takut dicap gagal.

Dan di titik ini, Khairun sebenarnya tidak sendirian. Kita Semua Pernah “Khairun”. Coba kita bercermin sejenak. Berapa banyak dari kita yang: pulang kampung naik mobil sewaan agar terlihat sukses, memoles cerita pekerjaan agar terdengar mapan, membeli barang di luar kemampuan demi menjaga gengsi, atau setidaknya berpura-pura “baik-baik saja” padahal hidup sedang compang-camping?

Kita tertawa membaca kisah Khairun, padahal dalam skala berbeda, kita semua pernah meminjam simbol kesuksesan. Bedanya, Khairun tertangkap kamera. Kita tidak.

Yang membuat kasus ini layak jadi refleksi nasional adalah: bahwa sebenarnya pola yang sama ternyata hidup subur di level yang lebih tinggi. Kita tahu, dalam beberapa tahun terakhir, isu ijazah palsu menyeret pejabat publik. Ada yang meragukan keabsahan. Ada yang saling lapor. Ada yang berdalih. Ada pula yang menghindar. Padahal ijazah bukan sekadar kertas. Tapi legitimasi untuk mengambil keputusan atas nasib orang banyak.

Jika Khairun meminjam seragam untuk membahagiakan orang tuanya, maka elite yang meminjam ijazah berarti meminjam legitimasi negara.

Secara psikologis, akarnya sama: ingin terlihat layak. Secara etis, dampaknya sangat berbeda: Khairun melukai dirinya sendiri. Elite melukai sistem dan kepercayaan publik. Ironisnya, yang kecil cepat dihakimi. Yang besar sering diberi waktu untuk “klarifikasi”.

Kita hidup di negeri yang sangat percaya pada tampilan. Pengusaha dianggap sukses dari mobilnya. Politisi dinilai hebat dari baliho dan sloganya. Pejabat dipercaya dari laporan yang rapi. Perusahaan terlihat sehat dari kantor yang mentereng. Padahal, tak sedikit yang sebenarnya hidup dari utang, citra, dan rekayasa narasi.

Bahkan ada politisi yang secara jujur, atau mungkin tanpa sadar keceplosan, mengakui: bahwa lima tahun menjabat belum cukup untuk menutup biaya politik. Dia minta jabatan DPR ditambah menjadi 10 tahun. Artinya apa? Artinya, sejak awal kekuasaan sudah dibebani logika balik modal. Jika ini bukan kepura-puraan struktural, lalu apa namanya?

Karena itu, Khairun seharusnya tidak diperlakukan sebagai bahan olok-olok. Ia bukan anomali. Ia adalah gejala dari sistem sosial yang terlalu keras pada kegagalan dan terlalu lunak pada pencitraan.

Yang perlu kita tanyakan bukan hanya: “Kenapa Khairun berbohong?” Tetapi: “Kenapa kejujuran terasa begitu menakutkan bagi banyak anak muda?” Kenapa gagal bekerja dianggap memalukan? Kenapa proses panjang kalah oleh hasil instan? Kenapa simbol lebih dipercaya daripada kompetensi?

Kasus ini seharusnya mendorong empati sekaligus perbaikan sistem. Alih-alih menghancurkan masa depan Khairun, mengapa buat Khairun kita tidak: membuka akses pelatihan kerja yang layak, memberi jalur pembinaan, atau bahkan membuka program afirmatif bagi korban penipuan calo kerja?

Dan lebih jauh lagi: perketat verifikasi ijazah pejabat, perbaiki rekrutmen berbasis merit, hentikan budaya memuja tampilan kosong.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling pandai menutup kelemahan, tapi bangsa yang berani mengakuinya lalu memperbaikinya.

Khairun Nisa adalah cermin. Seragam palsu, ijazah palsu, pencitraan palsu. Semuanya berada dalam satu garis lurus: yaitu “hasrat ingin tampak berhasil tanpa kesiapan substansi.” Jika kita hanya menertawakan cerminnya, maka kita kehilangan pelajaran. Jika kita marah tanpa refleksi, maka kita kehilangan arah.

Mungkin sudah waktunya bangsa ini berhenti terlalu sibuk terlihat sukses, dan mulai serius menjadi benar-benar layak disebut berhasil. Karena sejatinya, yang menyelamatkan masa depan bukan penampilan, tetapi kejujuran yang dibangun dengan proses panjang dan kerja nyata. Apa adanya.

Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *