TROBOS.CO | Alif Lām Mīm. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, “Kami telah beriman,” sementara mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta. (QS. Al-‘Ankabut: 1–3)
Ayat ini mematahkan ilusi spiritual paling umum: merasa cukup hanya dengan pengakuan.
Iman bukan slogan. Bukan identitas administratif. Bukan status sosial. Ia adalah komitmen eksistensial yang menuntut pembuktian.
Kalimat “آمَنَّا” (kami beriman) dalam ayat ini bukan ditolak—tetapi diuji. Karena dalam logika Qur’ani, setiap klaim memerlukan verifikasi.
Kata “يُفْتَنُونَ” berasal dari akar kata yang juga digunakan untuk proses pemurnian emas melalui api. Artinya, ujian bukan sekadar penderitaan, tetapi proses penyaringan.
Ujian memisahkan iman yang berbasis keyakinan dari iman yang berbasis kenyamanan. Ia mengungkap apakah kepercayaan tetap berdiri saat kepentingan terguncang, saat reputasi dipertaruhkan, saat harapan tidak sesuai kenyataan.
Tanpa ujian, iman mudah berubah menjadi ilusi psikologis—rasa aman semu yang belum pernah diuji oleh realitas.
Allah menegaskan: وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ — “Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.”
Ini adalah sunnatullah. Para nabi dan pengikutnya tidak pernah dibebaskan dari ujian.
- Muhammad ﷺ diuji dengan pengusiran, boikot, dan peperangan.
- Ibrahim diuji dengan api dan pengorbanan.
- Musa diuji dengan tirani kekuasaan.
Jika iman mereka saja diverifikasi melalui ujian, bagaimana mungkin kita mengira iman cukup dengan pernyataan belaka?
Ayat ketiga ditutup dengan penegasan: فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ — “agar Allah mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta.”
Bukan karena Allah tidak mengetahui sebelumnya, tetapi karena realitas perlu menampakkan kebenaran itu.
Ujian membuat iman terlihat, bukan hanya terasa. Ia memindahkan iman dari wilayah klaim ke wilayah bukti.
Iman tanpa ujian adalah potensi. Iman setelah ujian adalah karakter.
Kita sering meminta kehidupan yang mudah, tetapi lupa bahwa kemudahan tanpa ujian bisa membuat iman stagnan. Iman yang tidak pernah diverifikasi rentan menjadi ilusi. Ia terasa kuat dalam kata-kata, tetapi rapuh dalam kenyataan.
Maka ketika ujian datang, jangan buru-buru menganggapnya musibah. Bisa jadi itu adalah proses pemurnian—agar iman bukan sekadar ucapan, tetapi kebenaran yang teruji.
Karena dalam logika Al-Qur’an, iman sejati bukan hanya diikrarkan—tetapi dibuktikan.
Redaksi TROBOS.CO









