Ikhtiar antara Sebab-Akibat dan Kemungkinan: Mengurai Konsep Usaha & Takdir

TROBOS.CO | Dalam perjalanan mengejar prestise dan prestasi, seringkali timbul anggapan bahwa keberhasilan adalah hasil mutlak dari usaha pribadi. Namun, benarkah demikian? Hidup dipenuhi variabel yang kompleks, dan kesadaran akan hal ini mengajak kita merenung lebih dalam tentang hakikat ikhtiar, hukum alam, dan ketergantungan pada Tuhan.

QS Al-Insyirah mengingatkan kita bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan setelah satu pekerjaan selesai, kita harus melanjutkan yang lain dengan sungguh-sungguh, sembarihanya kepada Tuhan-lah kita berharap. Pesan ini menggarisbawahi keseimbangan antara ikhtiar maksimal dan ketergantungan total pada Allah.

banner 1142x1600

Kearifan Jawa mengajarkan prinsip “Ojo sok lan ojo dumeh”—jangan merasa kaya, pintar, atau berkuasa lalu sombong dan yakin dapat memastikan segala sesuatu. Larangan ini muncul dari kesadaran bahwa tidak seorang pun benar-benar tahu apa yang akan terjadi.

Namun, keyakinan akan hukum perubahan (“Anyokro manggilingan”) tetap ada. Leluhur kita meninggalkan teladan ketekunan yang luar biasa, seperti seni mengukir batu candi, logam keris, atau membatik. Semua karya agung itu membutuhkan kecerdasan, ketekunan, ketelitian, dan ketelatenan tingkat tinggi—sebuah aplikasi nyata dari hukum sebab-akibat (kausalitas).

Dari sudut pandang sains, kita mengenal dua paradigma:

  1. Fisika Klasik: Beroperasi pada benda kasat mata dengan hukum kausalitas yang kontinu—setiap sebab menghasilkan akibat yang dapat diprediksi.

  2. Fisika Modern: Menjelajahi dunia partikel subatomik dengan hukum probabilitas (kemungkinan). Di tingkat ini, hasil seringkali bersifat statistis dan tidak selalu linear.

Dua pandangan sains ini merefleksikan dinamika hidup: di satu sisi, kita berusaha keras dengan prinsip sebab-akibat (seperti menggosok besi hingga menjadi jarum). Di sisi lain, kita harus mengakui bahwa hasil akhir seringkali berada dalam ranah probabilitas—banyak kemungkinan bisa terjadi di luar kendali kita.

Leluhur mengajarkan sintesis yang bijak. Untuk meraih keberhasilan, diperlukan:

  • Keteguhan hati, kejujuran, dan kesungguhan dalam berusaha (menerapkan kausalitas).

  • Dzikir, puasa, dan penyucian diri untuk menjaga hati dari kemaksiatan dan kemunafikan, agar ikhtiar kita bernilai dan diberkahi.

  • Penyerahan hasil sepenuhnya hanya kepada Tuhan (bertawakal), mengakui bahwa setelah semua ikhtiar, akhirnya kita memasuki ranah probabilitas ilahiah.

Jadi, apakah prestasi mutlak hasil usaha pribadi? Tidak sepenuhnya. Keberhasilan adalah buah dari ikhtiar maksimal yang tunduk pada hukum alam (kausalitas & probabilitas), disertai penyucian batin, dan diakhiri dengan penyerahan total kepada Sang Pengatur segala kemungkinan. Inilah jalan bijak yang memadukan sains, kearifan lokal, dan keimanan—sebuah jalan yang menghindarkan kita dari kesombongan sekaligus kepasifan.

Ir. Widodo Djaelani, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *