TROBOS.CO | Bagi guru, menulis kerap dianggap sebagai beban administratif. Padahal, aktivitas ini punya nilai strategis yang jauh lebih besar. Yang dimaksud di sini adalah menulis untuk publikasi umum—di media massa, blog, jurnal, atau buku—bukan sekadar tulisan untuk kepentingan pribadi atau kewajiban dinas semata.
Lantas, apa saja manfaat konkret yang bisa dipetik seorang guru dari kebiasaan menulis? Berikut lima poin utamanya.
1. Wadah Berbagi Pengalaman & Refleksi
Dunia kelas adalah gudang cerita. Dengan menulis, guru bisa berbagi kisah sukses tentang metode mengajar yang efektif atau proyek yang membanggakan. Tulisan itu menjadi peta bagi rekan sejawat untuk meniru kesuksesan tersebut.
Sebaliknya, menguraikan kegagalan atau tantangan di kelas bukanlah aib. Justru, tulisan tersebut bisa menjadi peringatan dini dan ajakan kolaborasi mencari solusi bagi banyak guru lain yang mungkin menghadapi masalah serupa.
2. Pelatihan Dasar untuk Karya Akademis Serius
Kewajiban membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau karya ilmiah lainnya sering jadi momok. Blog dan media sosial bisa menjadi “lapangan latihan” yang sempurna untuk mengasah kemampuan ini secara lebih santai dan rutin.
Manfaatkan platform digital sebagai bank data dan ide. Catat refleksi harian, kumpulkan potongan observasi, atau dokumentasikan proses pembelajaran. Saat perlu menyusun karya formal, semua bahan mentah itu sudah siap untuk diolah menjadi tulisan yang lebih sistematis dan mendalam.
3. Pendorong Peningkatan Minat & Keterampilan Membaca
Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku) mengingatkan kita pada pertanyaan mendasar: Seberapa banyak guru sendiri yang menghabiskan buku dalam setahun? Menulis secara otomatis memaksa kita untuk banyak membaca.
Untuk menghasilkan tulisan yang berbobot, seorang guru perlu mencari referensi, memperkaya wawasan, dan menguatkan argumen. Siklus positif ini tercipta: niat menulis mendorong membaca, dan bacaan yang berkualitas memperkaya tulisan.
4. Menjadi Teladan Langsung bagi Murid
Berapa kali dalam seminggu guru memberi tugas menulis kepada murid? Mulai dari resume, laporan, hingga mengarang. Akan timbul kesenjangan jika guru hanya memberi perintah, tetapi tidak menunjukkan bukti bahwa dirinya juga menjalani apa yang diperintahkan.
Murid akan lebih termotivasi dan menghargai proses menulis jika mereka melihat gurunya aktif menghasilkan karya. Tunjukkan buku yang diterbitkan, artikel di koran, atau blog pribadi. Guru yang menulis adalah sosok yang memimpin dengan contoh.
5. Mendatangkan Beragam Reward Profesional
Pemerintah saat ini sangat mendorong dan menghargai karya tulis guru. Produktivitas menulis tidak hanya memenuhi syarat kenaikan pangkat melalui angka kredit, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) yang berdampak pada tunjangan.
Di luar reward formal, ada kepuasan intrinsik yang tak ternilai: melihat nama tercetak di media, menerima feedback dari pembaca, dan kontribusi nyata terhadap khazanah ilmu pendidikan.
Mulai dari Mana? Cari Motivasi & Guru yang Tepat
Alasan klasik seperti “tidak bisa” atau “tidak ada waktu” sering terbantahkan. Semua guru pasti bisa merangkai kata. Soal waktu, ini lebih tentang manajemen dan prioritas. Yang kerap hilang adalah motivasi.
Untuk membangkitkannya, carilah wawasan dari sumber yang tepat. Ikuti seminar, tetapi jangan berhenti di sana. Belajarlah secara mendalam kepada penulis profesional yang sudah berpengalaman. Mereka memiliki know-how praktis, mulai dari teknik menulis hingga strategi publikasi.
Ingat, menulis adalah soal pembiasaan. Konsistensi dalam waktu lama akan mengubahnya dari beban menjadi kebutuhan, bahkan kegemaran.
Teguh Wahyu Utomo, Aktivis Literasi & Pengurus Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Jawa Timur.









