Di Mana Wajah Kyai Dahlan? Refleksi Dinamika Identitas Muhammadiyah

TROBOS.CO | Sebuah fenomena menarik patut menjadi renungan: foto KH Ahmad Dahlan nyaris tidak ditemukan di rumah para pimpinan dan anggota Muhammadiyah. Kekhawatiran akan kultus individu dan syirik seolah membuat sang pendiri organisasi justru “menghilang” dari ruang visual kader-kadernya.

Padahal, di sisi lain, foto presiden atau kunjungan ke situs budaya seperti Candi Borobudur justru lebih mudah ditemui. Pertanyaannya, apakah penghindaran terhadap simbol pendiri ini mencerminkan kekuatan atau justru kerapuhan dalam memahami makna penghargaan dan peneladanan?

banner 1280x716

Perubahan dalam tubuh Muhammadiyah adalah sebuah keniscayaan. Praktik qunut subuh, misalnya, masih diamalkan hingga fatwa Majelis Tarjih menghilangkannya dari Himpunan Putusan Tarjih (HPT) pada cetakan 1974. Sejak saat itu, qunut pun “raib” dari masjid-masjid Muhammadiyah.

Demikian halnya dengan rokok. Awalnya, warga Muhammadiyah bebas merokok, bahkan banyak yang terlibat dalam budidaya tembakau dan industri rokok rumahan. Situasi berubah setelah Muhammadiyah memfatwakan haram rokok pada Munas Tarjih di Garut tahun 2010. Fatwa ini memantik pertanyaan lanjutan yang belum sepenuhnya terjawab: bagaimana status bekerja di pabrik rokok atau menggunakan fasilitas yang dibiayai cukai rokok?

Kompleksitas ini tidak lepas dari dinamika pemikiran keagamaan di internal Muhammadiyah. Pengaruh pemikiran Salafisme—dalam dua variannya, yaitu modernis-reformis (seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Rida) dan yang lebih tekstual (seperti aliran Wahabi)—ikut mewarnai.

Tidak dapat dimungkiri, karya-karya ulama seperti Syaikh Bin Baz, Utsaimin, atau Albani perlahan mulai dikenal dan mempengaruhi praktik beragama sebagian warga, bahkan seolah “menggeser” otoritas HPT di tingkat akar rumput. Generalisasi bahwa semua paham Salafi itu sama dengan Wahabi adalah penyederhanaan yang keliru, namun realitas ini menunjukkan betapa dinamisnya pergulatan pemikiran di tubuh Muhammadiyah.

Dalam situasi seperti inilah, Manhaj Tarjih hadir sebagai opsi metodologis. Ia dituntut untuk terus membangun body of knowledge yang kokoh, mampu menjawab persoalan kekinian (asriyah), sekaligus teruji ketahanannya dalam menghadapi kompleksitas keumatan dan kebangsaan.

Dinamika dan perubahan adalah sunnatullah. Yang terpenting adalah Muhammadiyah tetap mampu menavigasi arus perubahan ini tanpa kehilangan identitas aslinya sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang berkemajuan.

Oleh: Nurbani Yusuf
(Komunitas Padhang Makhsyar)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *