Catatan “Musibah Al-Khoziny” (Bagian 1)

TROBOS.CO – Banyak orang sering gagal memahami ketika Allah mengirimkan ayat-ayat-Nya melalui sebuah peristiwa.

Kita kerap melihat orang tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu secara dangkal. Padahal setiap kejadian yang Allah hadirkan mengandung pesan dan ujian: sejauh mana kita mampu membaca maknanya dengan hati dan akal yang jernih.

banner 1280x716

Pelajaran dari Musibah Al-Khoziny

Lihatlah peristiwa robohnya Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Banyak yang menangis dan berduka, menyaksikan anak-anak hebat wafat dalam kejadian itu. Namun, sebagian orang menilai semata-mata dari sisi teknis dan duniawi—seperti soal pembangunan atau konstruksi bangunan—tanpa melihat kedalaman maknanya.

Pembahasan teknis tentu penting dan sah dilakukan oleh para ahli. Namun, ketika masyarakat awam atau pihak di luar bidangnya ikut menilai secara serampangan, persoalan bisa bergeser dari empati menjadi sekadar opini dangkal.

1. Tujuan Hidup: Dunia atau Akhirat?

Mungkin Allah sedang mengingatkan kita melalui peristiwa ini. Untuk apa sebenarnya kita hidup? Untuk dunia atau akhirat?

Jika tujuan menyekolahkan anak ke pesantren hanya sebatas urusan dunia, maka tragedi ini akan dianggap kesalahan besar. Tetapi jika niatnya untuk akhirat, kita akan mencoba membaca hikmah ilahi di baliknya.

Anak-anak Al-Khoziny yang wafat maupun yang selamat menunjukkan keteguhan luar biasa. Mereka tetap shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan melantunkan shalawat, bahkan dalam kondisi sakit dan kesakitan. Mereka tidak mengeluh. Mereka pasrah. Mereka bersyukur. Inilah buah pendidikan pesantren yang sejati.

2. Didikan untuk Akhirat

Anak-anak itu tidak mungkin bersikap seagung itu jika hanya dididik untuk dunia. Dari ketawaduan dan kesabaran mereka, kita melihat keberhasilan para kiai dan ustaz dalam mendidik generasi berjiwa akhirat.

Mereka telah “lulus” dalam ujian hidup dengan nilai yang tinggi: kesalehan, kepasrahan, dan kebersyukuran.

3. Ketulusan Para Orang Tua

Banyak orang tua justru berkata dengan ikhlas, “Ya Allah, terima kasih anakku sudah Kau terima di surga. Terima kasih telah Engkau jadikan dia anak saleh yang membukakan pintu untuk kami kelak.”

Pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa mereka menyadari, menitipkan anak di pesantren bukanlah kesalahan, tetapi sebuah kehormatan.

4. Doa yang Menyelamatkan

Ada kisah luar biasa dari seorang ayah yang berdoa ketika anaknya kritis selama tiga hari: “Ya Allah, tunda kebahagiaanku di dunia. Aku rela tidak bahagia di dunia, asal Engkau selamatkan anak-anakku.”

Doa penuh pengorbanan ini menunjukkan cinta sejati yang tidak semua orang mampu memahaminya.

5. Panggilan bagi Pemerintah dan Ahli Bangunan

Memang, banyak yang mencaci di media sosial dan menyebut pondok ini tidak modern. Fakta menunjukkan, lebih dari 50% pondok pesantren di Indonesia mengalami masalah serupa.

Inilah pesan bagi pemerintah, arsitek, dan ahli konstruksi: saatnya memberi perhatian serius pada pondok-pondok tua yang telah menjadi benteng akhlak bangsa sejak jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dari Pesantren Al-Khoziny, kita belajar bahwa kesederhanaan tidak menghalangi lahirnya generasi yang tawadhu, berterima kasih, dan sabar menghadapi ujian.

Mari berhenti menilai kehidupan hanya dari urusan dunia. Karena tujuan akhir hidup kita adalah akhirat—dan setiap orang akan memperoleh hasil sesuai amal serta perjalanannya.

Oleh: Yusron Aminulloh
(Wartawan dan Penulis Buku)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *