Betapa Beratnya Berhari-hari Puasa Bicara

TROBOS.CO | Siapa yang pertama kali berpuasa di muka bumi? Dalam tarikh disebutkan Nabi Nuh adalah orang yang pertama kali berpuasa.

Puasa beliau sebagai bentuk syukur kepada Allah atas selamatnya sebagian umatnya dari ancaman air bah. Puasa yang dilakukan tidak permanen atau bersifat rutin tahunan. Nabi Nuh dan umatnya berpuasa sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang mereka rasakan.

Sedangkan Nabi Muhammad sebelum turun syariat shaum Ramadan juga sudah biasa berpuasa, yaitu puasa tiga hari dalam satu bulan setiap tanggal 13, 14, dan 15 yang dikenal dengan ayyamul bidh (puasa tengah bulan). Itu pun bukan hal yang wajib. Selain itu, beliau juga suka berpuasa setiap hari Senin, hari kelahirannya.

Setelah perintah puasa turun pada tahun kedua setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad berpuasa sebagaimana yang kita laksanakan hari ini.

Tiga Tingkatan Puasa

Puasa yang dikenal di kalangan umat Islam terbagi menjadi tiga tingkatan:

1. Puasa Orang Awam
Puasa yang hanya menahan rasa lapar dan haus belaka. Makan dan minum ditinggalkan, namun lisan dan anggota tubuh lainnya belum tentu terjaga dari maksiat.

2. Puasa Khusus
Selain berpuasa dari makan dan minum, juga menjaga panca indera dari perbuatan maksiat, dosa, atau melanggar ketentuan Allah.

  • Lisan dijaga agar tidak berbohong, mengumpat, mudah marah, dan menyalahgunakan kata-kata untuk hal negatif.

  • Mata dilatih untuk tidak meremehkan, merendahkan, atau menghina orang lain. Justru dengan berpuasa, mata dilatih memandang penuh kesejukan, teduh, dan memuliakan orang lain. Mata diajak untuk bertaubat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, melek untuk dzikrullah, dan perbuatan positif lainnya.

Betapa indahnya mata orang berpuasa. Begitu pula panca indra yang lain terus dilatih menuju kebaikan.

3. Puasa Super Khusus
Tingkatan paling tinggi. Selain tidak makan minum dan menjaga panca indra, hatinya juga berpuasa dari hal-hal yang menerjang ketentuan agama. Misalnya: berpikir negatif, punya rencana buruk, bersekongkol dalam kejahatan, bahagia ketika ingkar kepada Allah, dan bangga melakukan perbuatan maksiat.

Shaum: Puasa Bicara ala Maryam

Dalam Al-Qur’an, ada kata siyam dan ada kata shaum. Puasa dengan makna siyam berarti sebagaimana yang dilakukan selama ini (menahan lapar dan dahaga). Sementara shaum seperti yang dilakukan Maryam, ibu Nabi Isa.

Untuk menghindari perdebatan dan fitnah yang seliweran, Bunda Maryam yang baru melahirkan anak tanpa bapak itu disuruh shaum, yaitu puasa bicara. Beliau tidak berbicara saat gunjingan publik merajalela.

Puasa bicara tampak sederhana, tetapi dalam praktiknya sangat berat dan tidak mudah. Coba bayangkan: ketika disapa orang, kita tidak boleh menjawab. Tidak bicara dua jam saja sudah repot, apalagi jika tidak bicara puluhan hari atau satu bulan. Semua itu dijalani agar meraih derajat takwa.

Tiga Jalan Menuju Takwa

Menurut Syekh Hamim Tohari, menuju takwa ada tiga jalan:

Pertama, dengan dzikrullah. Mengingat dan menyebut Allah dalam setiap kesempatan. Kebiasaan ini membentengi diri dari perbuatan salah, khilaf, serta dosa.

Kedua, melalui shalat. Orang yang shalatnya benar atau khusyuk mampu menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah: “Inna shalata tanha ‘anil fahsya’i wal munkar” (Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar). Allah pun menegaskan bahwa orang yang shalatnya khusyuk termasuk orang yang beruntung, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Mu’minun ayat 1 dan 2.

Ketiga, dengan berpuasa Ramadan. Puasa inilah yang kita tunaikan, dengan target tertinggi menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu mewujudkannya.

Suharyo, pemerhati masalah sepele.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *